Menu Utama

     Pendiri SCJ

     Kongregasi SCJ
     Perdoman Hidup
     Propinsi Indonesia
     Karya
     Komunitas
     Elenchus
     Doa Persembahan
Artikel  
     Necrologium
     Link Propinsi SCJ
     BLOG Berita
 
Kontak - Info


Propinsialat SCJ Indonesia

Jl. Karya Baru 552/94  Km.7
Palembang  30152
Sumatera Selatan
Indonesia
Telp. +062 0711 410835
Fax. +062 0711 417533
Email: sekpropscj@gmail.com

 
Artikel - 1

Back to LIST

KETAATAN RELIGIUS JALAN BERTEMU DENGAN ALLAH DALAM KEBEBASAN DAN KEDEWASAAN

Para konfrater, pada hari kelahiran pater Dehon dan juga hari panggilan SCJ 14 Maret 2009 ini kita merefleksikan salah satu bagian hidup kita sebagai religius yakni Ketaatan Religius. Ketaatan Religius yang pernah kita janjikan saat mengikrarkan kaul pertama dan kaul kekal kini kita gali kekayaannya. Sungguhkah dengan ketaatan selama ini kita menemukan Allah dan membuat hidup kita menjadi bebas dewasa dan bahagia? Bagaimana komitmen kita untuk melaksanakan kesepatan bersama?

Tantangan ketaatan muncul dan sangat terasa pada jaman ini. Banyak orang ingin mengembangkan kemampuan pribadi atau sumber daya manusia. Kalau segalanya harus dilakukan dalam konteks ketaatan, apakah itu tidak mengkerdilkan inisiatif, kehendak dan kesempatan bagi semua anggota religius? Kalau semua harus dibicarakan dalam hidup bersama dan dengan pimpinan, dimanakah kebebasan dan kedewasaan anggota komunitas? Ketaatan Religius sungguh suatu pergumulan bagi kita untuk memadukan dan mewujudkan kehendak pribadi, kehendak komunitas, kebutuhan Kongregasi dalam menemukan kehendak Allah.

Pater Dehon memahami bahwa melalui ketaatan Yesus terjadilah penebusan manusia.  “Ecce Venio… Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu ya Allah (Ibr 10:7). Kita bisa melihat bahwa semua ciptaan yang untuk Kristus diatur oleh kehendak Bapa…… Ketaatan merupakan sumber dan pemelihara semua nilai kehidupan. Ketaatan melaksanakan hukum dan aturan Allah, melengkapi nilai-nilai lain. Tiada nilai lain yang tidak dipraktekan oleh ketaatan. Tiada aturan lain yang tidak meminta ketaatan”  (Studia Dehoniana SCJ 10 hal 151-152, Edition Française, Roma 1979).

 

Mencai Kehendak Allah

Kita bisa bertanya diri apa sebenarnya yang kita cari melalui kehidupan sebagai religius dan imam SCJ? Apa yang hendak kita cari dan kita gapai dengan kaul ketaatan kita? Melalui Mazmur 63 yang selalu kita doakan pada doa pagi hari Minggu I kita menemukan jawaban atas pertanyan tadi. “ Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu seperti tanah yang kering dan tandus tiada berair” (Maz 63 :2). Hidup religius kita adalah suatu peziarahan dan pencarian akan Allah. Kaul ketaatan religius kita merupakan jalan untuk mencari dan menemukan Allah dan kehendak-Nya untuk diri kita.

Hidup religius merupakan pilihan hidup untuk mengikuti Yesus dan hidup seperti Dia. “Jalan Kristus adalah jalan kita” (Konst 12). Kita ingin hidup seperti Kristus yang murni, miskin dan taat sebagaimana kita ikrarkan dalam kaul religius kita. Karena itu kita mengikrarkan kaul religius menurut konstitusi kita. Kristus sendiri yang menjadi jalan, kebenaran dan hidup bagi kita (lih Yoh 14:6). Untuk dapat hidup seperti Yesus, kita perlu mencari dan menemukan Dia dalam hidup ini.

Salah satu inti hidup religius kita adalah mencari dan menemukan Allah. Melalui kaul ketaatan kita bersama hendak mencari dan melaksanakan kehendak Allah dalam Kongregasi dan Propinsi kita. Bersama konfrater dalam komunitas kita mencari dan mewujudkan kehendak Allah dalam hidup harian kita. Karena itulah kita bersama mencari dan menemukan kehendak Tuhan. Kita dipanggil untuk mengikuti dan melihat hidup-Nya. “Marilah dan kamu akan melihatnya” (Yoh 1:39). Yesus mengundang kita untuk menemukan tempat tinggal dan melihat cara hidup-Nya. Nampak bagi kita bahwa hidup religius untuk mengikuti Dia, berarti hidup dalam pencarian akan kehedak-Nya bagi setiap anggota Kongregasi. Dalam pencarian kehendak Allah ini, kita membutuhkan seorang pemimpin yang dipilih Tuhan dari antara kita. Tugas pemimpin dalam Kongregasi, Propinsi atau komunitas religius yakni menjadi pemersatu semua anggota dan pembimbing dalam mencari bersama-sama kehendak Allah. Pemimpin menjadi pembimbing baik bagi pribadi maupun kelompok untuk mencari dan menemukan kehendak Allah. Karena itu kita mempunyai relasi dengan pemimpin dan kita wajib mentaati pemimpin kita.

Melalui kaul ketaatan kita berama-sama mencari, menemukan dan melakukan kehendak Allah dalam hidup dan perutusan kita sebagai religius. Karena itu semua anggota Kongregasi dituntut aktif berpartisipasi dalam mencari dan melaksanakan kehendak Allah. Untuk mencari dan menemukan kehendak Allah, kita menggunakan akal budi dan hati nurani yang telah dikaruniakan Tuhan kepada kita. Kita dengan bebas menggunakan kemampuan kita untuk setia dan taat kepada kehendak Tuhan. Oleh karena itu bersama pemimpin dan anggota Kongregasi, Propinsi, Komunitas, kita membuka cakrawala pikiran dan pandangan kita kepada Tuhan. Kita bersatu mengarahkan pikiran dan pandangan kita kepada kehendak Allah. Dengan demikian semakin kentara pikiran dan kehendak kita sejalan dengan kehendak Allah. Jalan Kristus sungguh terwujud dan menjadi jalan kita.

 

Kebebasan Kita

Kita telah melihat wewenang pemimpin religius dalam kongregasi kita adalah mempersatukan semua anggota, membimbing dalam mencari, menemukan dan melaksanakan kehendak Allah. Kita sadar bahwa kerjasama pimpinan dan anggota merupakan kondisi pokok yang kita butuhkan untuk menemukan dan melakukan kehendak Allah. Dalam kebersamaan antar anggota kongregasi, propinsi, komunitas kita akan mempunyai ketaatan yang membahagiakan untuk melaksanakan kehendak Allah. Kita juga akan mampu menghidupi dan mewujudkan sikap Ecce Venio kita dengan penuh sukacita dan kebebasan hati. Kita tahu bahwa antara pemimpin dan anggota kongregasi mempunyai ketaatan yang sama yakni mentaati keputusan-keputusan Kapitel sebagai otoritas tertinggi dalam kongregasi dan propinsi ini

Melalui ketaatan religius kita berusaha untuk meneruskan cita-cita pater Dehon. Ketaatan bagi kita menjadi penghubung sejarah hidup kita saat ini dan situasi saat kongregasi kita didirikan. “Pater Dehon telah menerima rahmat pengutusan untuk memperkaya Gereja….Kongregasi kita dipanggil untuk membuat kharisma Pater Dehon itu berbuah sesuai dengan tuntutan Gereja dan dunia” (Konst 1). Kita dapat menemukan kehendak Allah secara tepat dalam tuntutan, kebutuhan Gereja dan dunia saat ini.

Kita mengalami dan merasakan bahwa penghayatan kepemimpinan dan ketaatan mengalami perkembangan yang sangat berarti. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan dunia informasi sangat berpengaruh dalam penghayatan kepemimpinan dan ketaatan religius. Kita  perlu mengembangkan nalai pribadi manusiawi kita, bakat, intelektual, afektif, spiritual serta kesabaran dan kemampuan rasional kita.. “Kita mengakui dan menerima sumbangan yang dapat diberikan oleh pelbagai ilmu pengetahuan tentang manusia dan agama untuk pastoral” (Konst 88).  Namun kalau kita egois dan mengutamakan pencarian diri kita akan terhambat dalam mempersembahkan diri secara total. Sikap egoisme akan membuat kita sulit untuk menanggapi kebutuhan-kebutuhan kongregasi, propinsi, Gereja, dan masyarakat dengan hati gembira.

Otoritas Yesus adalah otoritas Putera Allah. Ia menerima kekuasaan itu dari Allah Bapa. “Sekarang mereka tahu bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari-Mu. Sebab segala firman yang telah Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar bahwa Aku datang dari pada-Mu dan mereka percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” (Yoh 17 : 7-8). Yesus merupakan jalan kebenaran bagi kita. Suatu jalan dimana kita semua diundang untuk melaluinya. Pengajaran Yesus diberikan dalam kekuasaan. Ia mengungkapkan kehendak dan keinginan Allah serta melengkapi hukum yang berlaku ditengah masyarakat dengan cinta kasih. Yesus mengkomunikasikan otoritasnya kepada para muridnya. Yesus mengajar dan menyembuhkan orang lain dengan kuasa ilahi.

Kita bisa memahami jika ada perbedaan kepemimpinan religius dalam kongregasi kita dengan kepemimpinan militer. Kita dapat menyadari bahwa, kekuasaan dan wewenang para pemimpin militer bukan berasal dari karismanya, tetapi berasal dari jabatan dengan fungsinya. Mereka dipilih oleh instansi atau pemimpin yang lebih tinggi. Sementara itu wewenang dan kewibawaan para pemimpin religius diberikan oleh semua anggota. Para pemimpin religius dipilih oleh semua anggota. Originalitas dan kekhususan otoritas, wewenang pimpinan religius tampak seperti suatu perjanjian atau kesepakatan antara mereka yang sedang menjadi pimimpin dengan mereka yang dilayani. Pusat relasi hirarkis dalam hidup religius terbangun dari relasi antar dua kebebasan yakni kebebasan pemimpin dan kebebasan anggota. Para pemimpin dan anggota bersama-sama mencari dan mewujudkan kehendak Allah demi perkembangan semua anggota Kongregasi. Hidup religius dalam Kongregasi kita mengekspresikan kesatuan satu tubuh dan setiap anggota saling berkaitan untuk melengkapi secara bebas seperti tertuang dalam Konstitusi kita. “Semua anggota adalah sama dalam mengikrarkan hidup religius yang sama; satu-satunya perbedan ialah dalam pelayanan-pelayanan gerejawi” (Konst 8).

 Hidup religius adalah suatu hasil kebersamaan ilahi yang final. Kita sadar bahwa ada suatu perjanjian, kesepakatan, kerjasama antara pemimpin dan semua anggota Kongregasi untuk mencari yang tidak kelihatan dan kita saling percaya. Dalam kepemimpinan religius, kita saling melengkapi. Kita tahu bahwa kedudukan, wewenang dan suatu fungsi yang kita emban, bukan jabatan yang kita impikan, dambakan atau harapan, tetapi itu semua yang kita terima untuk melayani saudara-saudara kita.

Otoritas kepemimpinan religius tidak dapat digunakan seperti suatu fasilitas pemerintahan. Maka itu sulit untuk dilatihkan. Perwujudan kepemimpinan religius bersumber pada perjanjian dan harus original / asli serta dilakukan dalam suatu kebebasan hati baik pemimpin maupun anggota. Kepemimpinan religius dikembangkan atas dasar kharisma para pemimpin. Kebebasan hati yang diperintah harus sesuai dengan kebebasan mereka yang memerintah. Maka dalam hidup religius baik anggota maupun pemimpin perlu untuk:

a.      Mencari apa yang digariskan dalam Kapitel maupun yang diminta oleh otoritas pimpinan.

b.     Perlu mendengarkan cara Roh Kudus memimpin dan memberi inspirasi melalui realitas hidup harian kita, kharisma pemimpin maupun anggota.

c.      Perlu memahami cara Roh Kudus menganimasi setiap pribadi sauda-saudara kita.

d.     Perlu memperhatikan orientasi pada pemberi otoritas maupun yang kita layani dalam perutusan kita. Seperti Yesus selalu membawa dalam doa untuk keputusan-keputusan penting dalam hidup dan palayanannya.

Tiada otoritas religius tanpa melayani kemanusian. Ketaatan juga tidak mungkin tanpa perjumpaan dua kebebasan yakni kebebasan pimpinan dan anggota Kongregasi atau Propinsi. Perjanjian Otoritas – ketaatan antara pimpinan dan anggota Kongregasi tertulis dalam suatu konteks sejarah dan memberi variasi serta ritme hidup antar generasi serta antar kita. Taat bagi kita bukan berarti menguasai seseorang atau menguasai aturan untuk menggapai keinginan pribadi kita, tetapi kita memahami panggilan yang kita terima dari Tuhan  dan untuk mewujudkan kehendak-Nya pada saat ini.

Bagi para pemimpin religius dibutuhkan kemampuan untuk mendengarkan para anggota serta kemampuan untuk mengungkapkan perasaan dan arah kepemimpinannya kepada para anggota Kongregasi. Kita bisa melihat suatu realitas kepemimpinan dan ketaatan yang bergerak dalam satu jalan. Benar bahwa kata-kata atau animasi, bimbingan para pemimpin untuk anggota kongregasi sungguh  mengundang dan  memberi kebebasan dan energi seluruh anggota Kongregasi kita.

Kedewasaaan Kita

Kita menyadari bahwa Roh Kudus berkarya dalam diri setiap anggota Kongregasi, Propinsi, maupun melalui pusat pelayanan dan pendengaran kita. Oleh karena itu untuk menciptakan kebebasan hati melalui ketaatan dibutuhkan suatu dialog antara pemimpin dan semua anggota komunitas. Kita dapat mengembangkan Kongregasi dan pelayanan serta kualitas anggota Propinsi melalui dialog dan ketaatan kita.

Melalui dialog kita dapat berelasi dengan siapa saja. Kita dapat mengenal mereka secara mendalam dan terjalin hubungan pribadi yang lebih dekat. Kita juga tidak akan mudah mengadili atau membicarakan kelemahan orang lain. Kita akan mempunyai ketenangan hati dalam pencarian nilai-nilai kebaikan dan kebenaran. Selain itu kita juga akan mempunyai hati yang penuh cinta kasih. Kita menjadi pribadi yang berbelas kasih. Dalam pengalaman kita mencari kehendak Tuhan dapat melalui peristiwa penting, melalui penolakan, perbedaan pendapat atau kita harus keluar dari gagasan idalisme kita sendiri untuk terpusat pada kehidupan kita yang nyata dan aktual. Kita mempunyai kesempatan dan tempat bergabung dengan rahmat Allah yakni dalam inkarnasi Yesus.

Kita dapat merasakan hidup lebih baik saat  menghayati ketaatan secara tepat. Kita tetap bebas dan membiarkan Roh Kudus untuk memimpin kita dan saudara-saudara kita yang lain. Dalam dialog ini kita akan menemukan: kesetiaan, kewajiban kita, discermet dan kebebasan yang besar.  Kita dapat memahami bahwa dalam hidup religius ini, Propinsi dan Kongregasi selalu dalam dinamika dialog, repondasi dan adaptasi pada kenyataan hidup. Tujuan hidup kita adalah melakukan kehendak Allah dengan menanggapi kebutuhan Gereja dan dunia saat ini.

Kesetian dapat kita lakukan terutama untuk para pendahulu maupun kesetian kepada semua anggota Propinsi atau Kongregasi. Kesetian kita kepada mereka juga mewujudkan kesetian kepada Tuhan. Kita bisa memahami bahwa kita tidak dapat hidup dengan baik dalam perutusan ini tanpa kesetiaan kita kepada setiap anggota komunitas.

Kita dapat menggali lebih mendalam tentang otoritas atau wewenang. Mereka yang mempunyai wewenang, mereka itulah yang berwewenang untuk mengembangkan Kongregasi, propinsi, komunitas. Para pemimpin itu yang kita beri kekuasaan untuk membuat discernement guna mengembangkan kemanusiawian dan spiritual setiap pribadi. Kita perlu mempunyai hukum dan menumbuhkan dalam hati setiap orang kebenaran, ketenangan, dan kebebasan.

Kita merefleksikan figur Yesus sebagai pelayan yang berbicara dan melakukan segalanya dengan penuh kuasa. Dia melakukan gerakan pembaharuan hidup rohani. Otoritas adalah suatu kekuatan untuk melihat, memperhatikan apa yang sedang terjadi atau yang sedang berfungsi. Yang sedang berjalan yakni kegiatan setiap individu untuk mengembangkan kepribadian dan kualitas khusus dalam pelayanan untuk orang lain.

Bagi kita setiap religius adalah seorang pemimpin.  Dalam hidup dan karya kita ini sungguh-sungguh para pemimpin. Kita semua adalah pemimpin karena kita telah dengan kebebasan membuat pilihan untuk menjadi religius. Dari mana wewenang, kekuasaan para pemimpin religius, jika semua anggota itu pemimpin? Seorang pemimpin  menganimasi seluruh anggota komunitas dan menjadi tanda bahwa mereka taat menurut pelayanan yang mereka terima dengan kebebasan hati.

Akar ketaatan kita terletak pada suatu kontrak atau dalam bahasa biblis yakni perjanjian. Perjanjian ini telah kita buat baik kepada Allah, Kongregasi dan umat dalam kaul religius kita. Kita mengucapkan kaul itu secara personal dalam ikatan komunitas dan menurut konstitusi Kongregasi kita. Kita tahu bahwa semua otoritas, kekuasaan itu berasal dari Allah dan masuk dalam fungsi sosial  ketaatan.

Ketaatan bagi kita berarti mendengarkan Allah dan sesama. Kita dapat mendengarkan perkataaan pater Dehon pendiri SCJ atau perkataan Allah pencipta dalam pribadi Yesus. Kita bisa mendengarkan perkataan Yesus dalam damai, kebenaran dan kebaikan. Hidup bagi kita adalah secara fundamental mendengarkan dan menjawab  dengan perkataan dan tanggungjawab pelayanan kita. Tuhan berbicara dalam kemanusiaan kita. Ia berbicara dengan hati dan mulut sesama kita, melalui spontanitas maupun kekuatan refleksi kita dengan atau tanpa mediasi. Tuhan juga berbicara kepada kita melalui Kitab Suci.

Ketaatan religius kita merupakan tanggungjawab atas kebebasan dan wewenang yang telah diberikan kepada kita. Pribadi yang taat adalah pribadi yang dapat menerima orang lain dalam dirinya sendiri, dan dalam sifat timbal balik relasi satu terhadap yang lain. Kita bisa perhatikan seperti dalam relasi ketiga pribadi Allah Tritunggal yakni relasi Bapa, Putra dan Roh Kudus.  Dalam ketaatan kita kepada pimpinan kita pahami sebagai wujud ketaatan saya pada Tuhan  yang datang melalui para pemimpin. Ketaatan bagi kita pertama-tama taat kepada Allah. Ketaatan kita kepada Allah dapat diwujudkan dalam relasi sosial yakni ketaatan kita kepada sesama. Relasi kita dengan yang lain lebih intim dan personal membutuhkan figur sosial.

Ketaatan Kepada Pimpinan

Tuhan yang nampak dalam pribadi Yesus hadir dalam pribadi setiap orang dan dalam kemanusiaannya yang paling inti. Kehidupan sosial, persaudaraan merupakan buah dari perjanjian kita dengan Tuhan. Perjanjian ini yang menumbuhkan struktur sosial manusiawi yang khusus. Para pemimpin menjadi instrumen bagi kita untuk menemukan kehendak Allah. Karena pemimpin setiap pribadi dipanggil untuk menanggalkan kehendak pribadinya. Setiap pribadi dan komunitas ingin agar setiap perkataan, kehendak pribadi yang lain menjadi bagian dalam keputusannya.

Superior berwenang terhadap ketaatan setiap anggota kongregasi. Ia berwenang mendengarkan Roh Kudus yang berbicara kepadanya, saat ia melakukan tugasnya. Baik saat ia berjumpa dengan setiap anggota secara pribadi, saat perjumpaan dalam kelompok dan maupun dalam rapat dewan. Ia dapat dan harus melihat setiap inisiatif para anggota melalui kemampuan mendengarkannya. Ia juga dapat meminta pembaharuan relasi antar pribadi. Ia harus berani mengatakan tidak kepada kehendak dan keinginan pribadi anggota demi pembaharuan hidup dan pandangannya. Seorang pemimpin dituntut mempunyai kemampuan untuk mendengarkan setiap anggota dan kemampuan untuk bernegosiasi dengan mereka.

Kita tahu ada tanggungjawab khusus para pemimpin karena fungsinya menjadi superior seperti yag tertuang dalam konstitusi kita (Konst 107-114). Kita sebagai anggota Kongregasi mengembangkan kerjasama dengan para pemimpin. Karena itu kita taat kepada superior yang telah kita pilih. Kita mentaati mereka yang telah kita pilih. Demikian juga para pemimpin mentaati tugas perutusan untuk melayani mereka yang telah memilihnya. Ketaatan kalau kita lihat dari segi pemimpin selalu menampakan garis hirarki. Karena fungsi dan perannya para pemimpin berbeda dengan anggota lain, meskipun dalam konstitusi semua anggota sama (Konst 8). Dalam kaiatannya dengan ketatan  para pemimpinlah yang memberi mandat dan perutusan kepada kita. Dan sebagai anggota kita menanggapi dan meresponnya dengan hati gembira. Kita menanggapinya dengan kecerdasan, supel dan menurut prosedur, aturan, hukum dan konstitusi kita. Bagi kita ketaatan harus terwujud dalam komitmen untuk melaksanakan keputusan-keputusan bersama. Pribadi yang taaat akan selalu selalu berpegang dan memenuhi komitmen dan keputusan bersama.

 

Pembebasan Diri

Kita dapat mengembangkan diri kita melalui ketaatan religius. Ketaatan kita kepada Allah memberikan pertumbuhan kedewasan kita. Ketaatan ini juga yang membebaskan kita dari perbagai perasaan negatip terhadap sesama. Melalui ketaatan kita kepada Allah kita dapat menerima rencana yang lain yang berbeda dengan rencana dan kehendak kita sendiri.  Kebebasan kita menerima perbedaan pikiran dan pendapat dengan orang lain menjadi jalan bagi kita untuk taat. Kita dapat memiliki kebebasan hati kalau kita mampu mentaati kehendak Allah terwujud dalam hidup kita. Kita dapat meneladan ketaatan Yesus dalam menyerahkan diri kepada Bapa. “Ya Baba-Ku, jikalau sekiranya mungkin biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Mt 26:39). Yesus sadar dan yakin bahwa segala sesuatu mendapatkan arti dalam kesetiaan penuh atas rencana penyelamatan yang dikehenaki Allah Bapa.

Ketaatan menjadi bagian dan ciri khas hidup kita sebagai religius. Ketaatan kita temukan makananya dalam rangka kasih dan relasi akrap dengan Allah. Dalam ketaatan kita perlu menyesuaikan diri dengan kehendak ilahi yang memanggil kita. Keataatan ini membuat hati kita bebas dan terbuka untuk menanggapi rencana dan kehendak Allah dalam panggilan hidup dan perutusan kita. Penyerahan diri kita kepada kehendak Allah akan memampukan kita memahami kasih Allah yang tiada batas. Kita juga yakin bahwa Allah memberikan jalan yang membebaskan dan membahagiakan kita. Maka dengan ketaatan kita semakin menemukan dan menyenangi kehendak Allah dalam kehidupan dan panggilan kita ini,

Kita dapat belajar dari pribadi Yesus yang selalu mendengarkan dan menerima kehndak Bapa. Meskipun harus menderita Yesus menerima kehendak Bapa itu dengan tegar, tabah dan bahagia. Ketaatan seperti Yesus itu bukan merendahkan martabat dan membebani hidup kita. Sebaliknya ketaatan mengangkat harkat hidup kita dan membuktikan kita mempunyai kualitas iman serta relasi yang mendalam dengan Allah. Kita menemukan kebenaran dan kepenuhan kehendak Allah dalam hidup ini. Kita mampu mengatur dan mengarahkan kehendak dan keinginan pribadi untuk diselaraskan dengan kehendak dan keinginan Allah sendiri.

Bagi pater Dehon, ketaatan adalah pengurbanan hidup yang penuh arti dan membahagiakan. “Kalau kita benar-benar bersemangat mengurbankan diri, maka ketaatan merupakan mutiara yang indah bagi kita. Sebab dalam suasana ketaatanlah hati Kudus Yesus menjalankan korban penebusan agung. Yssus datang di dunia ini untuk menjadi taat. Dia taat kepada Maria dan Yusuf. Dia taat sampai mati” (Direktorium Rohani p. Leo Yohanwes Dehon hal 57).

Sebagai religius SCJ kita perlu belajar menjadi taat melalui pengurbanan, penderitaan atau situasi sulit yang kita hadapi dalam hidup dan perutusan kita masing-masing. Dari tantangan dan kesulitan itu kita mendapatkan situasi konkrit untuk mewujudkan ketaatan kita. Kita juga akan menemukan kebahagian hidup yang mengalir dari ketaatan ini. Kita bahagia karena menemukan kekuatan Allah yang membimbing kita dan memampukan kita taat kendati dalam situasi yang sulit.

Kekuatan kita untuk taat kendati dalam situasi yang sulit termotivasi oleh kaul kita. Saat mengikrarkan kaul kita ingin taat kepada Allah. Dalam situasi yang sulit itu ketaatan kita pada Allah ini lebih banyak berbicara. Demikian juga dalam relasi kita dengan sesama, kita taat kepada mereka karena yang ingin kita taati yakni Tuhan sendiri. Kita taat kepada Tuhan dan ketaatan itu kita wujudkan melalui ketaatan kita kepada sesama. Ketaatan ini dapat kita wujudkan dalam bentuk komitmen untuk menepati keputusan-keputusan yang sudah ditetapkan bersama-sama. Maka kalau kita tidak mempunyai komitmen untuk mentaati keputusan bersama, kita akan sulit untuk taat kepada Allah dan mentaati sesama kita.

Ketaatan dapat kita wujudkan dalam hidup sebagai religius jika kita bukan hanya mengejar cita-cita, keinginan dan melakukan kehendak sendiri, tetapi bersama para pemimpin dan anggota kongregasi mendengarkan sabda dan kehendak Tuhan. Dalam kebersamaan dan keterbukaan hati ini kita semua akan dibimbing oleh Roh Allah. Kita akan menjadi orang yang taat bila kita selalu mengutamakan dan memenuhi kehendak Allah.

Dalam bimbingan Roh, kita bisa menyadari bahwa antara pemimpin yang mempunyai wewenang untuk mengembangkan Kongregasi dan anggota yang dipimpin mempunyai dasar ketaatan yang sama. Kita semua mencari serta mentaati kehendak Allah melalui perutusan yang kita emban atau yang sedang menjadi tanggungjawab kita. Kehendak Allah dapat kita temukan dalam keheningan, doa, refleksi maupun nasehat dan bimbingan orang lain. Maka kita menyadari perlunya setiap religius ataupun seorang pemimpin untuk mempunyai seorang pembimbing rohani. Dengan bimbingan ini kita tidak akan memaksakan kehendak dan keinginan kita, namun dengan objektif kita menemukan dan memahami kehendak Allah dalam hidup dan perutusan kita. Kita bersama Yesus dan semua anggota kongregasi dapat mewujudkan ecce venio melalui ketaatan kita. Dengan demikian ketaatan memberikan kebebasan dan kegembiraan yang mendalam dalam diri kita. Melalui ketaatan kita mampu mewujudkan dan mengembangkan karisma pater Dehon dalam menanggapi dan memenuhi kebutuhan dan tuntutan Gereja dan masyarakat pada jaman ini.

 

Refleksi Pribadi / Pendalaman materi

  1. Bagaimana relasi personal kita dengan para pemimpin dan konfrater yang lain?
  2. Kalau kita menyadari dengan jujur relasi antar kita ini akrap, mendalam, atau…..? Karena apa?
  3. Kalau kita meninjau kaul ketatan selama ini, apakah kaul ini membuat pribadi kita semakin dewasa dan berkembang?
  4. Bagaimana kita selama ini mewujudkan, merealisasi serta melaksanakan komitmen kita pada keputusan-keputusan bersama? Apakah hasil pertemuan komunitas bergema dalam hidup?
  5. Apakah kita dapat tepat waktu dalam mempertangungjawabkan tugas, laporan keuangan serta pelayanan-pelayanan kita?
  6. Apakah kita dengan tekun berusaha menemukan kehendak Allah dalam hidup harian kita?

 Selamat Berefleksi

Komisi Spiritualitas SCJ Provindo 2009

 
:: © SCJ Propinsi Indonesia - Terima kasih Anda telah mengunjungi situs ini ::