Menu Utama

     Pendiri SCJ

     Kongregasi SCJ
     Perdoman Hidup
     Propinsi Indonesia
     Karya
     Komunitas
     Elenchus
     Doa Persembahan
Artikel  
     Necrologium
     Link Propinsi SCJ
     BLOG Berita
 
Kontak - Info


Propinsialat SCJ Indonesia

Jl. Karya Baru 552/94  Km.7
Palembang  30152
Sumatera Selatan
Indonesia
Telp. +062 0711 410835
Fax. +062 0711 417533
Email: sekpropscj@gmail.com

 
Artikel - 2

Back to LIST

Ada Apa Dengan Kaul Ketaatan

Ketaatan jarang dibicarakan karena jarang menimbulkan masalah. Ini bisa dilihat di dokumen personalia propinsi dan dari pembicaraan sehari-hari. Dapat juga dilihat dari instansi-instansi yang harus kita taati menurut DirProp Bab VII, fasal IV art. 4: Tahta Suci, Konstitusi, Kapitel Jenderal dan DirJend yang ditetapkan, Kapitel Propinsi dan DirProp yang ditetapkan, Pater jenderal, Pater propinsial, Pimpinan komunitas.

 

3 Keprihatinan Utama:

 1. Masalah Praktis:

1.      Melaksanakan himbauan, ajakan, anjuran dari otoritas resmi: propinsial, superior, ekonom. Mengapa bisa demikian:

  • Tidak ada sanksi (Hanya sanksi moral)
  • Kewibawaan pemimpin. Para pemimpin kita umumnya low profile dan lebih sering menggunakan cara-cara persuasif dari pada otoritatif.

2.      Melaksanakan kesepakatan / keputusan  bersama: Propinsi, komunitas (wilayah maupun rumah). Mengapa bisa demikian:

  • Dokumentasi kesepakatan, misalnya pertemuan komunitas tidak dicatat.
  • Objektif atau sasaran yang hendak dicapai kurang jelas.
  • Tidak jelas siapa melakukan apa.
  • Kontrol dan evaluasi tidak ada.

 

2 Masalah Teologis

Inti kaul ketaatan adalah penyerahan diri pada kehendak Allah. Apa yang menjadi keprihatinan:

  • Mencari dan menemukan kehendak Allah sepertinya bukan menjadi prioritas dalam hidup. Tandanya: kita hanya menyisihkan sedikit waktu untuk hening, membaca KS, meditasi, membuat refleksi.
  • Dalam bertindak atau mengambil keputusan mungkin kita kurang mempertimbangkan sudut pandang Allah.
  • Kita merasa puas bila sudah melaksanakan kewajiban / tugas minimal.

 

3. Mentalitas Penghambat Ketaatan

  • Mencari enak
  • Rasionalisasi
  • Bicara di belakang punggung

 

 

Pokok-Pokok Kaul Ketaatan

 1. Konst. 53.

  • Yesus telah menyerahkan Diri dalam cintakasih kepada kehendak Bapa-Nya; kesediaan itu nampak secara khusus dalam perhatian dan keterbukaan-Nya terhadap kebutuhan dan harapan orang orang lain. “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya”(Yoh 4:34).
  • Dengan mengikuti teladan Kristus, melalui pengikraran ketaatan, kita ingin mengorbankan diri kita sendiri kepada Allah, dan mempersatukan diri lebih teguh dengan kehendak penyelamatanNya.

 

  • Tiga hal penting:
    • Mengikuti teladan Kristus
    • Mengorbankan diri sendiri kepada Allah
    • Mempersatukan diri lebih teguh dengan kehendak penyelamatan-Nya.

 

  • Dalam hidup sehari-hari dimensi ini kurang mendapat tekanan. Tekanan kita umumnya terfokus pada ketaatan terhadap instansi. Kita agak melupakan kehendak Allah.

 

2. Mencari Kehendak Allah

  • Kehendak Allah itu terwujud dalam berbagai perintah moral umum. Tetapi tidak hanya sebatas itu saja. Setiap situasi kongkrit yang kita hadapi menuntut suatu tanggapan dan tanggapan itu semestinya kita tempatkan dalam kerangka kehendak Allah.
  • Disinilah pentingnya discernment, pentingnya membiarkan diri dibimbing oleh Roh.
  • Discernment menjadi lebih  mudah bila dilandasi Pengenalan akan Allah. Pengenalan akan menghantar pada Kedekatan.
  • Dan Kedekatan akan membuat kita lebih peka menangkap kehendak Allah.

 

3. Ketaatan Mengandaikan Kedewasaan

  • Orang hanya diwajibkan taat kalau ia mampu dan bisa dituntut tanggungjawab. Maka ketaatan itu mengandaikan kedewasaan.
  • Pimpinan biasanya tidak memberikan perintah-perintah secara detail.
  • Dalam sistem demokrasi pemimpin biasanya berdialog.
  • Dialog tidak akan lancar bila tidak dilandasi kedewasaan: bisa emosi, kecewa, tidak mau mendengarkan, dll

 

4. Taat pada Pimpinan

Bila pemimpin otoriter

         Kembangkan pendekatan personal

         Manfaatkan pertemuan komunitas untuk membicarakan persoalan-persoalan

         Bicarakan dengan pemimpin di atasnya (misalnya bila ia seorang PIKO)

         Turuti dengan lapang dada

Bila pemimpin demokratis

         Hargai dan hormati niat baiknya

         Kemukakan pendapat entah setuju atau tidak

         Bila sudah ada kesepakatan berusahalah untuk konsekwen

Bila pemimpin cuek / tidak peduli:

         Jangan segan-segan bertanya atau minta penjelasan

         Bila terpaksa harus mengambil keputusan sebelum sempat bertanya, segera beritahu bila ada kesempatan

   

5. Ketaatan Membawa Pembebasan

         Dengan kaul ketaatan kita mempersembahkan kehendak kita. Kita tidak terpaksa mengikrarkan kaul ketaatan. Hal itu pantas digarisbawahi karena saat ini kita berada di arus jaman yang ditandai:

·        Kesetaraan dalam martabat manusia

·        Individualisme dan otonomi pribadi

·        Budaya demokrasi

·        Keberanian dan kebebasan berbicara

         Dengan memberi tekanan pada persembahan kita bisa menjadikan ketaatan justru sebagai sarana menuju pembebasan. Kita mempersatukan kehendak kita dengan kehendak Allah. Kita dibebaskan dari kehendak pribadi yang sering hanya mencari yang enak dan menyenangkan, dan ujung-ujungnya akan menjauhkan kita dari rencana penyelamatan Allah.

         “Ecce Venio. Penghayatan kita akan semboyan itu membuat ketaatan kita menjadi suatu persembahan, dan menjadikan hidup kita serupa dengan Kristus… (Konst. 58)

 

6. Harapan-Harapan

  1. Kita makin tekun dalam mencari dan menemukan kehendak Allah: membaca KS, meditasi, refleksi pribadi maupun bersama. Disinilah kita mengasah kepekaan kita pada kehendak Allah.
  2. Pendengar dan pelaksana Sabda. Hal itu akan tampak dalam hidup sehari-hari:
  3. Melaksanakan ajakan, seruan, perintah superior atau pihak-pihak yang berwenang.
  4. Melaksanakan kesepakatan bersama.
  5. Kita akan menjadi orang yang peka menangkap kehendak Allah yang tersirat dalam diri para superior, para konfrater, dan orang-orang yang kita layani.
 
:: © SCJ Propinsi Indonesia - Terima kasih Anda telah mengunjungi situs ini ::