Kembali ke Artikel

Artikel / Cerita

 

 

Alkisah seorang raja terkenal akan kegemarannya menyantap madu. Kadang para pegawai istana dan pembantu dekatnya tidak berani menggangu manakala ia sedang menikmati madu kesukaannya. Suatu ketika raja sedang menyantap madu dengan nikmatnya. Saking nikmatnya ia tidak mempedulikan sebagian madu itu meleleh ke lantai kayu istana. Tentu saja lelehan madu itu mengundang lalat datang. Mereka juga berpesta menikmati lelehan madu itu. Salah satu pembantu istana memberanikan diri bertanya kepada raja, "Haruskah lalat ini hamba usir paduka?" Raja diam saja, terus menikmati madunya.

Tak lama kemudian datanglah cicak yang terusik akan banyaknya lalat yang datang. Lalat-lalat itu disantapnya satu per satu. Kembali pembantu raja bertanya apakah cicak itu mengganggu sang raja dan perlu diusir. Raja mulai tak senang, "Biarkan saja, tidak perlu diurusin !" Dan cicak pun menjadi kenyang.

Kucing kerajaan yang dari tadi tidur tenang, terusik oleh tingkah heboh cicak itu, maka ia pun segera beranjak mengejar cicak itu untuk dia makan. Kembali sang pembantu menanyakan hal itu kepada raja,

"Perlukah pengasuh kucing saya panggil untuk menenangkan kucing raja?" Maka jawab sang raja,

"Tidak perlu, nggak usah mengurusi kucing!".

Melihat kegaduhan kucing itu, anjing kerajaan juga terusik sehingga ia bangkit dari tempatnya dan mengejar si kucing, musuh bebuyutannya sejak jaman purbakala. Terjadilah keributan yang makin seru di istana. Maka kembali pembantu sang raja berkata,

"Baginda, apakah perlu aku suruh pengasuh kucing dan anjing itu untuk menghentikan keributan ini?" Maka jawab baginda dengan tetap menyantap madunya,

"Tidak perlu, tidak perlu kau mengurusi binatang-binatang itu."

Menyaksikan kucing dan anjing itu saling kejar-kejaran, para pengasuh binatang piaraan raja mulai saling tuding untuk menghentikan binatang asuhannya masing-masing. Terjadilah perang mulut antar mereka. Kembali pembantu raja bertanya kepada sang raja,

"Perlukah saya panggil pengawal untuk melerai mereka?" Jawab sang raja singkat,

"Tidak perlu!".

Kemudian datanglah para pegawai istana lainnya melihat pertengkaran para pengasuh binatang raja itu, dan karena mereka mempunyai simpati ke masing-masing pihak, maka terjadilah perang mulut dan adu fisik antar para pegawai istana. Maka bertanyalah pembantu raja itu kembali,

"Haruskah aku memanggil para pengawal untuk menghentikan ini semua?" Jawab sang raja,

"Biarkan saja!".

Keributan itu berlangsung semakin seru, dan para pengawal raja juga mulai terlibat dalam perkelahian massal itu. Barang-barang kerajaan mulai berterbangan, kaca-kaca mulai dipecahkan, dan api mulai berkobar membakar istana. Dan akhir cerita, istana itu terbakar habis, dan banyak pegawai istana yang menjadi korban "perang" ini. Raja duduk terpekur dan berulang-ulang berguman,

"Aku menyesal, aku menyesal, aku menyesal .."

Kepekaan kita terhadap apa yang terjadi di sekeliling kita, sekecil apa pun itu, bisa mencegah terjadinya hal-hal buruk yang lebih besar lagi.

 

 .............0000...............