Menu Utama

Pendiri SCJ   
     Kongregasi SCJ
     Perdoman Hidup
     Propinsi Indonesia
     Karya
     Komunitas
     Elenchus
     Doa Persembahan
     Artikel
     Necrologium
     Link Propinsi SCJ
     BLOG Berita
 
Kontak - Info


Propinsialat SCJ Indonesia

Jl. Karya Baru 552/94  Km.7
Palembang  30152
Sumatera Selatan
Indonesia
Telp.: (+62) 0711 410835
Fax: (+62) 0711 417533
Email: sekpropscj@gmail.com

 
Link Bermanfaat

     Renungan Pagi

 
Pater Pendiri Kongregasi SCJ

Riwayat Hidup
Pater Leo DEHON
Pendiri Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus – SCJ

(1843 - 1925)

Masa Kecil
Leo Dehon lahir pada 14 Maret 1843 di La Capelle, Aisne, Prancis Utara. la lahir sebagai anak ketiga dari keluarga yang tergolong berada. Ayahnya, Alexander Jules Dehon, seorang jujur, murah hati dan penderma. Namun Alexander sudah sejak masa mudanya meninggalkan Gereja, sewaktu belajar di kota Paris. Ia terpengaruh oleh gerakan anti Gereja. Istrinya, Adele Belzamine (ibu Leo), seorang yang saleh dan sangat memperhatikan pendidikan rohani anak anaknya.

Leo memperoleh pendidikan dasar di La Capelle. Kemudian ia melanjutkan di Kolese di Hazebrouck. Selesai belajar di kolese tersebut, ia mengajukan keinginannya menjadi imam. Ayahnya menolak keinginannya. Leo malahan dianjurkan belajar hukum di Universitas Sorbone di Paris. Hal itu sebagai taktik ayahnya agar Leo melupakan cita citanya menjadi imam. Ternyata masa studi ini sangat bermanfaat bagi Leo. Kurikulum Fakultas saat itu banyak membicarakan masalah masalah sosial, ekonomi dan politik yang aktual. Leo juga aktif dalam riset riset pribadi maupun studi kelompok, sehingga perhatiannya pada masalah masalah sosial sangat berkembang. Dalam tahun 1864 Leo meraih gelar doktor Hukum Sipil.

Menjadi Imam
Ayahnya menghendaki agar Leo menduduki jabatan tinggi di pemerintahan. Tetapi Leo lebih memilih menjadi imam. Setelah banyak mendapat pertentangan dari keluarganya, akhirnya Leo diizinkan mengikuti cita citanya. Tahun 1865 ia masuk Seminari Santa Klara di Roma. Studinya dilaluinya dengan lancar. Pada 19 Desember 1868 ia ditahbiskan di Gereja Santo Yohanes Lateran, di Roma. Kedua orangtuanya menyaksikan peristiwa yang sangat bersejarah dalam kehidupan Leo Yohanes Dehon itu. Pada hari itulah ayahnya, yang tidak begitu peduli dengan kehidupan imannya, mengaku dosa dosanya agar dapat menyambut komuni suci dalam persembahan misa pertama Leo hari berikutnya.

Leo kemudian meneruskan studinya di Roma hingga meraih gelar doktor ilmu Ketuhanan (teologi) tahun 1871. Pada Konsili Vatikan I, ia juga bekerja sebagai stenograf dalam sidang sidang Konsili itu. Meskipun kesibukan menyita waktunya, Leo masih berhasil meraih gelar Hukum Gereja dan Filsafat.

Setelah kembali ke Prancis ia ditugaskan sebagai pastor pembantu di Saint Quentin, sebuah kota industri di Prancis Utara. Kehidupan kaum buruh waktu itu sangat memprihatinkan. Leo Dehon tergerak hatinya dan mulai memperjuangkan nasib mereka. Ia mengunjungi mereka dan membicarakan suka duka hidup mereka. Ia juga mengadakan pendekatan dengan para pemilik pabrik, membujuk mereka agar upah buruh dinaikkan. Sebuah surat kabar didirikannya untuk memperjuangkan orang orang miskin dan kaum buruh.

Sejak belajar di Roma, Leo Dehon mencita citakan kehidupan belajar dan merenung. Dan setelah menjadi imam dengan berbagai pekerjaan yang menyita seluruh hidupnya, cita cita itu dirasakannya sebagai sangat tepat untuk dikembangkan. Pada waktu itu ia juga menjadi pembimbing rohani Suster suster Hamba Hati Kudus Yesus. Kongregasi ini sangat membantu Pater Leo Dehon dalam karya karya sosialnya. Di samping itu kehidupan rohani dan semangat mereka sangat sesuai dengan cita cita Leo Dehon sendiri, yakni cintakasih dan pemulihan kehormatan Hati Yesus dan bersama Yesus kepada Allah. Keinginannya yaitu menjadi imam sekaligus biarawan dengan semangat itu. Ia mencari Kongregasi kongregasi dengan semangat para Suster Hamba Hati Kudus Yesus, namun ia tidak menemukan satu pun yang sesuai dengan dorongan hatinya.

Mendirikan Kongregasi SCJ
Kaitannya dengan Asrama …….
Di bawah bimbingan Pater Modiste SJ ia mulai merintis cara hidup baru. Atas nasihat Pater Modiste juga ia berani mengambil keputusan yang sangat menentukan dengan memulai masa persiapan, yaitu Masa Novisiat. Ia memilih nama Yohanes dari Hati Kudus. Pada Hari Raya Hati Kudus Yesus, 28 Juni 1878, Leo Yohanes Dehon mengikrarkan kaul kaul hidup membiaranya. Itulah awal mula berdirinya Kongregasi Imam imam Hati Kudus Yesus, suatu Kongregasi yang dipersembahkan untuk cintakasih dan pemulihan kepada Allah.

Tidak lama kemudian beberapa orang bergabung dengan Pater Dehon. Hal itu membawa perkembangan cukup pesat bagi Kongregasi, di antaranya Kongregasi mulai berkembang ke negara Eropa Barat dan dimulainya misi di Equador sepuluh tahun kemudian.

Pater Dehon dan karya Social……
Sampai akhir hidupnya Pater Dehon memimpin Kongregasi sebagai Superior Jenderal. Ia rajin mengunjungi putra putranya yang mulai tersebar juga di luar Eropa dan memberikan semangat rohani kepada mereka. Leo Yohanes Dehon wafat di Brussel tgl 12 Agustus 1925.

Pater Leo Yohanes Dehon, Sang Abdi Cintakasih, telah menyerahkan diri seutuhnya demi Kerajaan Hati Kudus Yesus. Ia mengabdi bagi cintakasih Allah. Kesetiaan dan cintanya kepada Kristus diwujud nyatakan dalam karya karya cintakasih kepada sesama manusia. Perhatiannya terutama bagi mereka yang tersingkir dan tertindas serta bagi mereka yang memerlukan uluran tangan penuh cinta.

Semangat hidupnya terungkap dalam pesan terakhir bagi para pengikutnya, “Untuk Dia aku hidup dan untuk Dia aku mati” sambil menunjuk patung Hati Kudus Yesus. Itulah warisan melimpah bagi kita yang hidup pada zaman ini.

Proses Beatifikasi

Dasar Spiritualitas SCJ
1. Kongregasi baru ini berakar pada pengalaman iman Pater Dehon. Pengalaman seperti diungkapkan Santo Paulus, “Hidupku yang kujalani sekarang dalam daging, adalah hidup dalam iman akan Anak Allah, yang telah mengasihi aku, dan telah menyerahkan diri untukku” (Gal 2:20). Leo Dehon mengalami betapa cintakasih itu hadir dan berkarya dalam hidupnya. Baginya Lambung Penebus yang tertikam dan terbuka merupakan ungkapan cintakasih paling mengesan. Cintakasih Kristus, yang mengorbankan diri sampai mati, adalah sumber keselamatan.

2. Pater Dehon sangat peka terhadap dosa yang membuat Gereja menjadi lemah. Ia mengenal baik kemalangan dan kejahatan yang ada dalam masyarakat. Ia mempelajari secara teliti sebab musababnya. Ia sampai pada kesimpulan bahwa sebab yang paling dalam ialah penolakan terhadap cintakasih Kristus. Tergerak oleh cintakasih yang ditolak itu, putra bangsawan De Hon itu ingin membalasnya melalui suatu persatuan mesra dengan Kristus dan ikut menegakkan KerajaanNya dalam batin manusia dan dalam masyarakat.

3. Dengan Kongregasi ini Pater Dehon bermaksud, agar para anggotanya mempersatukan seluruh dirinya, sebagai biarawan dan rasul, dengan persembahan Kristus kepada Bapa sebagai pemulihan demi kepentingan manusia. Itulah maksud khas dan asli Pater Dehon serta menjadi ciri khas Kongregasi. Para anggotanya diharapkan menjadi nabi cintakasih dan pelayan perdamaian. Mereka hendak mempersembahkan seluruh dirinya dengan kegembiraan kesedihannya. Mereka menjadikan seluruh hidupnya suatu ibadah persembahan kasih dan pemulihan. “Persatuan dengan Kristus itu mengungkapkan diri sepadatnya dalam Korban Ekaristi, sehingga seluruh hidupnya menjadi suatu Misa yang terus menerus” (Konst. SCJ no. 5)

Pater Dehon merumuskan seluruh panggilan, cita cita dan tujuan Kongregasi dalam kata kata: ECCE VENIO (Lihatlah Aku datang.... untuk melakukan kehendak Mu, ya Allah) dan ECCE ANCILLA (Aku ini hamba Tuhan).

Pater Dehon menyadari bahwa untuk menghadirkan “Kerajaan Hati Kudus Yesus dalam hati manusia dan dalam masyarakat” tidak mungkin dibuatnya sendiri bersama dengan Kongregasinya. Sejak pertama dia sudah melibatkan orang lain di luar Kongregasinya untuk bekerja sama mewujudkan apa yang menjadi keinginan hatinya itu. Dari sinilah munculnya keyakinan bahwa orang-orang lain di luar biaranya pun dipanggil untuk ikut serta di dalam “Gerakan Cinta Kasih” sebagaimana dicita-citakan oleh Pater Leo yohanes Dehon.

:: © SCJ Propinsi Indonesia - Terima kasih Anda telah mengunjungi situs ini ::