Kapitel IX SCJ Provinsi Indonesia

Kapitel : Discernment Bersama

Dalam kotbahnya saat Perayaan Ekaristi pembukaan, pukul 18.00, Pater Propinsial mengajak para kapitulan (peserta kapitel) untuk merenungkan tugas perutusan yang diinspirasikan oleh Sabda Tuhan (Luk 7:11-17). Injil Lukas berbicara tentang belas kasih dan simpati Yesus kepada janda yang menderita akibat kehilangan putranya. Yesus memberi hidup baru bagi putra dari janda itu. Putranya hidup. Sebagai SCJ, kita dipanggil untuk memberi harapan itu bagi sesama yang menderita.

Perutusan sebagai SCJ menegaskan kembali pannggilan untuk menjadi nabi cinta kasih. Nabi sendiri, kata Romo Madya, harus punya sesuatu, yaitu pengalaman akan Allah yang disharingkan kepada orang lain. Tujuannya demi kemuliaan Allah dan keselamatan manusia.

“Kita adalah nabi yang mensharingkan kepada sesama pengalaman hidup kita dengan Allah. Pater Dehon berharap, kita berjumpa denga Allah yang membahagiakan dalam hidup sehari-hari,” kata Rm Madya.

Berkenaan dengan kesatuan, ia mengatakan bahwa kesatuan itu tidak hanya didiamkan, tetapi sungguh-sungguh dihidupi. Dalam hidup komunitas, kita menerima setiap konfrater yang hidup bersama kita. Hal ini membutuhkan suatu perjuangan. Untuk itu, dibutuhkan karisma dan kebijaksanaan kita untuk melihat orang lain yang berbeda karakter sebagai yang memberi warna bagi hidup bersama kita. Hal ini menjadi suatu kekayaan yang mesti dibagikan.

Untuk itu, Pater Propinsial menegaskan bahwa Kapitel Ke-9 Propinsi SCJ Indonesia kali ini sebagai sebuah perayaan iman dan menjadi kesempatan untuk mengadakan discernment. Kita membuka diri untuk dikuasai oleh Roh Allah.

Dalam kapitel ini ada kesemptan untuk instrospeksi dan refleksi diri untuk menemukan kehendak Allah yang mesti dilakukan oleh Propinsi Indonesia enam tahun ke depan. Ada pun discernment yang baik mencakup semangat doa, beriman mendalam dan hidup dalam Roh Allah seperti yang dilakukan oleh Yesus.

Discernment sudah dimulai pada pagi hari saat para kapitulan mengadakaan rekoleksi dengan tema kapitel, yaitu SCJ Indonesia Menegaskan Diri untuk Menjadi Nabi Cinta Kasih dan Pelayan Pendamaian dalam Kristus di Jaman Ini. Rekoleksi ini dipimpin oleh Romo Tarcisius Leisubun MSC.

Romo Tarcis mengatakan, sebagai nabi cinta kasih, seorang anggota SCJ hendaknya menyadari bahwa dirinya dipanggil dan diutus oleh Hati Kudus Yesus. Untuk itu, para kapitulan mesti selalu menghidupi semangat Pater Dehon. Hal ini terungkap jelas saat menjelang ajalnya, sambil menunjuk patung Hati Kudus, Pater Dehon berkata, “Untuk Dia aku hidup, untuk Dia aku mati.”

Pater Dehon mengajak para anggota SCJ untuk selalu memandang kepada Dia yang telah mereka tikam. Hati Yesus menjadi dasar pengalaman iman Pater Dehon. Dalam semangat ini pula, para kapitulan mengadakan refleksi dan penegasan roh. **
:: © SCJ Propinsi Indonesia - Terima kasih Anda telah mengunjungi situs ini ::