Kapitel IX SCJ Provinsi Indonesia

RD Harry Prabowo PR: "Masih Ada Lahan Pelayanan di Tanjungkarang"

Melayani dengan hati adalah hal yang penting. “Pastoral berbasis data penting tetapi pendekatan hati juga tak kalah pentingnya. Profesionalitas penting, spiritualitas hati juga penting,” tandas Rm Markus Tukiman SCJ saat memimpin Perayaan Ekaristi.

Untuk itu, para anggota SCJ mesti bertolak dari pengalaman St Paulus (1 Kor 15:1-11) yang mesti menyadari kelemahan dan kekuarangan dengan rendah hati. “Kesadaran itu mesti memampukan kita untuk menyadari dan mengalami kasih Allah yang hidup dan tinggal dalam diri kita,” kata Rm Tukiman.

Dalam konteks ini, karya pastoral SCJ di Keuskupan Tanjungkarang menjadi suatu kesempatan untuk menumbuhkan kasih Allah kepada umat manusia. SCJ merintis dan memulai Gereja Lokal di Keuskupan Tanjungkarang.

Sejarah misi di Lampung diawali oleh Henricus van Oort SCJ pada 16 Desember 1928. Imam SCJ asal Belanda ini membeli tanah di dekat statisun Kereta Api Tanjungkarang sebagai titik awal Gereja di Lampung. Kehadiran SCJ di Lampung semakin kuat dengan dibentuknya wilayah Lampung menjadi sebuah keuskupan. Mgr Hermelink diangkat sebagai uskup pertama Tanjungkarang dengan semangat, “Aku berharap kepadaMu karena aku yakin tidak akan dikecewakan”.

Sebagai SCJ, kata RD Harry Prabowo, Vikaris Jendral Keuskupan Tanjungkarang, Mgr Hermelink mempersembahan hidupnya untuk melayani umat dan masyarkat dengan murah hati. “Hal ini tampak dalam keramahannya kepada setiap orang. Cara hidupnya menjadi bentuk pewartaan,” kata RD Harry saat memberikan presentasi di hadapan para kapitulan, Kamis (18/9) lalu.

Semakian bertambahnya umat katolik, pemekaran-pemekaran, persoalan-persoalan (sosial politik) memicu dibuatnya general planning . Salah satunya, kata RD Harry, adalah membangun semangat kerjasama antarpara imam. “Waktu itu cara kerja para pastor bersifat single fighter dan itu lumrah,” kata RD Harry.

Semangat Konsili Vatikan II membuat Gereja mesti menumbuhkan partisipasi umat Allah. Para imam mulai berbicara tentang peran kaum awam. Mgr Andreas Henri Soesanta SCJ, yang ditahbiskan sebagai uskup Tanjungkarang 1 Desember 1978, bertekad untuk bekerja secara konseptual dan sistematis. Orang harus belajar melihat dan memperbaiki untuk berubah.

“Gereja mencoba berpatoral dengan sistematis dalam berbagai tahapan Rencana Kerja Pastoral Keuskupan (RKPK). Disadari pentingnya manajemen, pastoral secara terarah dan terkoordinir,” kata RD Harry.

Melihat realitas kehidupan menggereja, RD Harry mengatakan bahwa SCJ tidak mungkin meninggalkan Lampung. Hal ini bukan karena keterikatan sejarah, tetapi karena keuskupan membutuhkan semangat dan spiritulitas tarekat.

Untuk itu, Mgr Harun mengawali kegembalaannya dengan membangun komunikasi dengan para imam dan biarawan-biarawati serta para pemimpin tarekat. Tujuannya untuk membangun kerjasama dan persaudaraan.

Untuk itu, RD Harry menekankan pentingnya relasi dengan imam-imam diosesan. “Secara pribadi, umumnya relasi SCJ dan projo baik, tetapi ketika menyangkut kelompok atau pastoral muncul ketegangan. Sudah ada usahan membangun kolegialitas melalui rekoleksi, konveniat, studi pastoral bersama,” kata RD Harry.

Menurut Rm Harry, perlu dipikirkan kegiatan bersama seperti studi pastoral bersama, merancang dan melakukan kegiatan bersama atau retret bersama. Ia juga mengusulkan kemungkinan hidup komunitas campuran yang menjadi peluang untuk bekerja sama.

Saat ini, SCJ bekerja di tiga paroki yaitu Paroki Misuji, Paroki Gisting dan Paroki Tulangbawang. Uskup Tanjungkarang mengharapkan penambahan anggota SCJ untuk berkarya di Keuskupan Tanjungkarang. Saat ini sedang diadakan pemetaan untuk pemekaran paroki seperti Paroki Katedral, Kalirejo, Metro dan Kota Gajah. **
:: © SCJ Propinsi Indonesia - Terima kasih Anda telah mengunjungi situs ini ::