Kapitel IX SCJ Provinsi Indonesia

Tema Kapitel Jenderal XXIII - tahun 2015: "Belas Kasih dalam Komunitas Bersama Orang Miskin"

Orang miskin selalu ada dalam dunia ini. Namun kemiskinan tidak hanya dilihat dari segi materi. Kemiskinan juga berkenaan dengan pengalaman iman akan Allah dan relasi dengan sesama.

Pater Paulus Sugino SCJ, anggota Dewan Penasihat Jendral, memiliki kesempatan untuk berbicara tentang tema Kapitel Jendral XXIII, Kamis (18/9) siang. Di hadapan para kapitulan, Romo Sugino memaparkan tema Kapitel Jenderal XXIII, yaitu Belas Kasih dalam Komunitas Bersama Orang Miskin.

Romo Sugino mengatakan, tema ini diuraikan dalam tiga bagian besar disertai beberapa pertanyaan reflektif dan ungkapan-ungkapan penegasan untuk mengaplikasikan dalam hidup konkrit. Pertama, belaskasih. Kedua, dalam komunitas. Ketiga, bersama orang miskin.

Rm Sugino SCJ mengungkapkan bahwa pilihan kata ‘belaskasih' menjadi tema kapitel adalah mengejutkan, karena dalam konstitusi kata itu tidak pernah dipakai kecuali ketika mengutip surat Paulus. “... demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati,” kata St Paulus (Rm 12:1).

Kata ‘belaskasih' tidak banyak dipakai dalam konstitusi, karena konteks waktu itu penggunaan kata belaskasih dipandang terlalu bersifat spiritual dan meredusir dimensi sosial yang waktu itu banyak menjadi perhatian.

Sebagian besar kapitulan terkesan dan tertarik terhadap tema dan uraian yang disampaikan oleh Rm Sugino SCJ. Tema Kapitel Jenderal yang menekankan belaskasih sejalan dengan tema Kapitel Propinsi yang menekankan peran nabi cinta kasih. Jika dihayati dengan sungguh, maka hal itu akan menjadi sumbangan besar dari konggregasi bagi Gereja dan dunia.

Kapitel Jendaral XXII lalu menekankan hidup berkomunitas sebagai kerasulan yang otentik. Romo Sugino mengatakan, tanda kebenaran cinta kasih itu adalah kesederhanaan dan keterbukaan.

“Kapitel merumuskan situasi ini dalam kata belaskasih sebagai tanda kebaikan Allah dan tanda hadirnya kerajaanNya. Untuk menjadi komunitas belaskasih, kita mesti mengalami sendiri hidup mereka dalam kerajaan Allah, yaitu Agape Allah.

Romo Sugino mengajak para anggota kapitel untuk menghayati dimensi sosial karisma pendiri dalam hidup berkomunitas. “Sebagai sebuah komunitas kaum miskin, kita ingin seperti Leo Dehon bersama kaum miskin, juga orang-orang luar, mereka yang hidup di dalam “pinggiran” Gereja yang jarang menerima perhatian dan reksa pastoral gereja,” kata Romo Sugino.

Pertanyaan-pertanyaan yang masih menggema adalah bagaimana para anggota SCJ menghayati karisma Pater Dehon dalam komunitas-komunitas? Bagaimana kita mengkrabi kaum miskin dan orang pinggiran? Apakah kita mempunyai rencana riil dan konkret? Apa arti karisma sosial sudah menjadi bagian dalam paroki-paroki? Bagaimana kita mendukung karya-karya untuk dan dengan pengungsi dan migran? Semua ini untuk membantu kita berdiscernment dan membantu kita mengambil langkah bersama.

Tentu saja pertanyaan-pertanyaan ini menjadi pekerjaan rumah bagi setiap anggota SCJ. **
:: © SCJ Propinsi Indonesia - Terima kasih Anda telah mengunjungi situs ini ::