Kapitel IX SCJ Provinsi Indonesia

HK Mengalami Kerjasama yang Baik dengan SCJ

Palembang di tahun 1927 masih sepi. Hutan belantara masih menyelimuti Kota Palembang yang kaya minyak ini. Meski begitu, empat suster dari Kongregasi Suster-Suster Belaskasih dari Hati Yesus yang Mahakudus (HK) menjejakan kaki di Pelabuhan Boom Baru Palembang, Sumatera Selatan. Mereka adalah Sr Martini, Sr Emmaculee, Sr Bonifasia dan Sr Gabriela. Mereka tiba di tepian Sungai Musi pada 20 Juni 1927 lalu.

Di balik semangat membara keempat suster asal Moerdijk, Belanda, ini, peranan sosok Pater Henricus van Oort SCJ sangat besar. Misionaris SCJ asal Belanda ini mengundang para suster untuk melayani umat dalam bidang pendidikan.

Karena itu, 1 Juli 1927, para suster membuka sebuah TK, kelas 1 dan 2 SD untuk anak-anak Eropa. Ketidakmampuan pemerintah Belanda saat itu untuk menyediakan pengajaran bagi orang-orang Tionghoa menjadi peluang yang menguntungkan bagi para Suster HK. Hal ini menjadi lahan untuk pewartaan dan pengajaran agama serta menyelenggarakan pendidikan yang berlandaskan agama katolik bagi penduduk Tionghoa di Palembang, dan kaum peranakan.

Karena itu, pada 1 Juli 1927 diberikan kepada para suster sekolah HIS yang kemudian diberi nama Sekolah Theresia dari pater-pater SCJ serta ELS disediakan bagi anak katolik Eropa dan Indo Eropa. Sebuah asrama pun mulai diselenggarakan bagi kaum perempuan.

“Kalau kami membaca sejarah, maka berkat pendampingan Rm van Oort SCJ, HK hadir di Sumatera,” kata Sr. Theodora HK, Pemimpin Umum Suster-suster Belaskasih dari Hati Yesus Yang Mahakudus.

Bagi para Suster HK, Pater van Oort memberikan peluang yang lebih luas. Meski jumlah suster masih sedikit pada waktu itu, ia mengundang mereka untuk hadir dan berkarya di Telukbetung, pada 1931. Di sana para Suster HK mengembangkan karya perwataan Injil melalui perawatan orang sakit dan pendampingan kaum muda.

“Komunitas-komunitas kami yang dibuka pada tahun-tahun awal juga tidak lepas dari peranan dan karya para romo SCJ. Bahkan sampai saat ini, kami masih mengalami kerjasama yang baik dengan para romo SCJ di Palembang, Metro, Yogyakarta, Tulangbawang dan Sekincau,” tutur Sr. Theodora di hadapan para peserta Kapitel SCJ ke-9.

Dalam hal rohani, Sr. Theodora mengatakan bahwa Kongregasi Suster HK menerima dukungan yang luar biasa dari SCJ. Ia menyebut sejumlah bantuan rohani yang diberikan seperti konferensi, Pengakuan D osa, misa, seminggu sekali beribadat sore bersama.

Dalam hal karya, SCJ selalu melibatkan para Suster HK untuk pelayanan katekese di paroki-paroki di mana SCJ bekerja. Dalam pelayanan pendidikan, para imam SCJ juga membantu dalam hal pendampingan iman bagi para guru dan anak-anak.

Di mata Sr. Theodora, karya-karya dan cara hidup SCJ dapat berjalan dengan baik berkat kuatnya para anggota SCJ menghidupi spiritualitas yang diwariskan oleh Pater Dehon, pendiri SCJ. Hal ini mendorong para imam SCJ untuk selalu siap dalam pelayanan di daerah-daerah kecil dan terpencil.

Sapaan persaudaraan yang ramah dari para anggota SCJ kepada umat menumbuhkan kedekatan dengan umat. Ini sebuah nilai pastoral yang mesti dipertahankan dan ditumbuhkembangkan oleh setiap anggota SCJ.

Mewakili para suster Hati Kudus, Sr. Theodora mengatakan bahwa para anggota SCJ sangat memperhatikan hidup rohani sesama religius. Hal ini tampak dalam pelayanan-pelayanan rohani bagi para suster Hati Kudus.

Karena itu, Sr. Theodora berharap agar nilai-nilai ke-SCJ-an terus-menerus dikembangkan dalam hidup dan karya pelayanan bagi umat dan kaum religius yang lain.

“Semoga kesan-kesan baik yang ada terus dipupuk dan dikembangkan. Kami juga berharap agar SCJ semakin peduli terhadap masalah-masalah sosial kemanusiaan seperti narkoba dan perdagangan manusia,” harap Sr. Theodora.

Di akhir presentasinya, Sr. Theodora masih berharap agar paroki-paroki konvensi di Keuskupan Tanjungkarang tidak ditinggalkan. “Kenapa paroki-paroki konvensi ditinggalkan?” tanyanya. **
:: © SCJ Propinsi Indonesia - Terima kasih Anda telah mengunjungi situs ini ::