Menu Utama

     Pendiri SCJ

     Kongregasi SCJ
Pedoman Hidup SCJ   
     Propinsi Indonesia
     Karya
     Komunitas
     Elenchus
     Doa Persembahan
     Artikel
     Necrologium
     Link Propinsi SCJ
     BLOG Berita
 
Kontak - Info


Propinsialat SCJ Indonesia

Jl. Karya Baru 552/94  Km.7
Palembang  30152
Sumatera Selatan
Indonesia
Telp. +062 0711 410835
Fax. +062 0711 417533
Email: sekpropscj@gmail.com

 

 

Pedoman Hidup

Cari Nomor:
BAGIAN KEDUA (a)

MENGIKUTI KRISTUS
(nn. 9-39)

A. BERSAMA KRISTUS MELAYANI KERAJAAN

1. Pengalaman Iman Kita

(9)
Dalam Gereja kita telah diinisiasikan
pada Kabar Gembira Yesus Kristus:
Kita telah mengenal dan telah percaya
akan kasih Allah kepada kita
(1 Yoh 4:16).

Kita telah menerima anugerah iman
yang mendasari harapan kita,
iman yang mengatur hidup kita,
dan yang menginspirasikan kita untuk meninggalkan segalanya
guna mengikuti Kristus.
Di tengah tantangan-tantangan dunia ini
kita harus meneguhkan iman itu
dengan menghayatinya dalam cintakasih.

Berkat Roh Kudus, bersama dengan semua saudara seiman,
kita mengaku Kristus TUHAN,
yang dalam diri Kristus itu Bapa telah menyatakan cintakasih-Nya
kepada kita
dan senantiasa hadir di dunia untuk menyelamatkan nya.

Tidak ada seorang pun dapat mengaku: 'Yesus adalah Tuhan!', selain oleh Roh Kudus (1 Kor 12:3).

2. Saksi tentang Pentingnya Kerajaan Allah

(10)
Kristus, yang diutus pada kegenapan waktu,
dalam ketaatan kepada Bapa,
telah menyelesaikan pelayanan-Nya
bagi orang banyak.

Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Mrk 10:45).

Melalui solidaritas-Nya dengan semua orang
sebagai Adam baru,
Kristus telah mewahyukan cintakasih Allah
dan telah mewartakan Kerajaan: yaitu dunia baru,
yang sekarang ini sudah ada dalam bentuk benih
yang tampak dalam usaha-usaha pencarian manusia,
dan yang akan mencapai kepenuhannya)
melebihi segala sesuatu yang kita nantikan,
yaitu pada saat Allah - melalui Kristus - akan menjadi semua
di dalam semua.  

Kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan kita sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita (Rom 8:22-23).

Kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus, maka Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diri-Nya di bawah Dia, yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah-Nya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua (1 Kor 15:28).

(11)
Kristus telah berdoa supaya datanglah Kerajaan,
yang sekarang sedang berkarya
melalui kehadiran -Nya di tengah-tengah kita.
Melalui wafat dan kebangkitan-Nya
Kristus telah memungkinkan kita terbuka
bagi anugerah Roh dan bagi kebebasan anak-anak Allah (bd. Rom 8:21).

Bagi kita, Kristus adalah Yang Awal dan Yang Akhir,
Yang Hidup (bd. Why 1:17-18).

(12)
Dalam Kristus, Manusia Baru telah diciptakan
menurut Allah,
dalam kebenaran yang adil dan kudus (bd. Ef 4:24).

Dia menganugerahi kita keyakinan
bahwa penebusan itu menjadi mungkin,
telah ditawarkan dan sudah hadir juga,
kendati adanya dosa, kegagalan dan ketidakadilan,

Jalan Kristus adalah jalan kita.

(13)
Bersama dengan semua saudara kita yang seiman
kita dituntun untuk mengikuti jejak Kristus,
untuk mencapai kekudusan (bd. 1 Tes 4:7).

Untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya (1 Ptr 2:21).

Berakar dalam baptis dan krisma,
panggilan hidup religius kita merupakan suatu karunia istimewa,
demi kemuliaan Allah,
dan untuk memberi kesaksian
bahwa Kerajaan Allah itu yang paling utama.

(14)
Panggilan itu menemukan maknanya dalam persatuan seutuhnya
dan membahagiakan dengan Pribadi Yesus.

Panggilan itu melibatkan kita untuk mengikuti Kristus,
yang dalam keperawanan serta kemiskinan-Nya,
telah menebus dan menguduskan manusia
dengan taat sampai mati di Salib (PC 1).

Kita berikrar berjanji akan berusaha
untuk memperjuangkan cintakasih yang sempurna,
dengan membaktikan diri seutuhnya
pada cinta Tuhan dan saudara-saudara kita.

(15)
Bagi kita masing-masing
dan bagi komunitas-komunitas kita,
hidup religius merupakan suatu sejarah:
mulai dari rahmat asali
hidup religius itu berkembang
dengan memperoleh santapan dari khazanah iman
yang ditimba terus-menerus oleh Gereja yang diterangi Roh Kudus

3. Bersatu dengan Kristus dalam Cintakasih dan Persembahan Diri-Nya kepada Bapa

(16)
Dipanggil untuk melayani Gereja
dalam Kongregasi Imamimam Hati Kudus Yesus,
jawaban kita mengandaikan suatu hidup rohani
yang berkaitan dengan pengalaman Pater Dehon
dan pendahulu kita dalam Kongregasi
yaitu suatu pendekatan umum akan misteri Kristus
di bawah bimbingan Roh Kudus,
dan suatu perhatian khusus terhadap segi-segi misteri Kristus,
yang kekayaanNya tak tertimba habis.

(17)
Sebagai murid Pater Dehon,
kita berkehendak untuk menghayati persatuan dengan Kristus
dalam cintakasihNya kepada Bapa
dan kepada manusia,
sebagai prinsip dan pusat kehidupan kita.
 
Secara istimewa, kita merenungkan sabda Tuhan ini:
Tinggallah di dalam Aku seperti Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku (Yoh 15:4).
 
Dengan setia mendengarkan Sabda
dan memecahkan Roti,
kita terus diundang untuk semakin
menemukan Pribadi Kristus dan Misteri HatiNya,
serta mewartakan cintakasihNya
yang melampaui segala pengertian.

Semoga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengertian. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah (Ef 3:17-19).

(18)
Juga dalam kesiapsediaan,
dalam cinta bagi semua orang,
khususnya terhadap orang-orang kecil dan menderita,
kita menghidupi persatuan dengan Kristus.
Senyatanya, bagaimana kita dapat memahami
cintakasih Kristus bagi kita
kecuali dengan mencintai seperti Dia,
dalam perbuatan dan dalam kebenaran ?
 
Dalam cintakasih Kristus itu,
kita mendapatkan kepastian
bahwa persaudaraan manusiawi
akan berhasil dibangun melalui usaha untuk mengerjakannya.

(19)
Menurut rencana cintakasihNya
yang sudah ditetapkan
sebelum dunia dijadikan (bd. Ef 1:3-14),
Bapa telah mengutus PuteraNya:
Ia telah menyerahkan diriNya bagi kita semua (Rom 8:32).
 
Dengan membangkitkan PuteraNya,
Bapa telah menetapkan Dia menjadi Tuhan,
pusat (hati) kemanusiaan dan dunia,
harapan keselamatan
bagi semua orang yang mendengarkan suaraNya.
 
Sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah dideritaNya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaanNya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepadaNya (Ibr 5:8-9).

(20)
Keselamatan itu telah dipenuhi oleh Kristus
dengan membangkitkan dalam hati manusia
cintakasih kepada Bapa dan antar kita:
cintakasih yang melahirkan kita kembali,
cintakasih sebagai sumber perwujudan pribadi
dan komunitas-komunitas manusiawi,
dan cintakasih itu akan mendapatkan perwujudan penuh
dalam diri Kristus sebagai Kepala.

(21)
Bersama Santo Yohanes,
dalam lambung Yesus yang terbuka di Salib
yang merupakan pemberian diriNya secara total,
kita melihat tanda cintakasih
yang menciptakan kembali manusia
sesuai dengan Allah.
 
Dalam merenungkan Hati Kristus,
simbol istimewa cintakasih,
kita diteguhkan dalam panggilan kita.
Sesungguhnya, dalam p emberian diri bersama dan seperti Kristus,
bagi saudara-saudara kita,
kita dipanggil untuk terlibat dalam gerakan cintakasih yang menyelamatkan.

Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawaNya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita (1 Yoh 3:16).

(22)
Meskipun terlibat dalam dosa,
kita diikutsertakan dalam rahmat penebusan.
Melalui pelayanan dalam berbagai macam tugas,
kita ingin bersatu dengan Kristus
yang hadir dalam kehidupan dunia ini.
Dalam solidaritas dengan Dia,
dengan seluruh kemanusiaan, dan ciptaan,
kita mempersembahkan diri kita kepada Bapa
sebagai persembahan yang hidup, kudus,
dan berkenan kepadaNya (bd. Rom 12:1).

Hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diriNya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah (Ef 5:2).

(23)
Beginilah kita memahami pemulihan itu:
sebagai penyambutan Roh Kudus (bd. 1 Tes 4:8),
sebagai jawaban terhadap cintakasih Kristus bagi kita,
persatuan dalam cintakasihNya kepada Bapa,
dan keterlibatan dalam karya penebusanNya di tengah dunia.
 
Sesungguhnya di dunia saat inilah
Kristus membebaskan manusia dari dosa
dan memulihkan kemanusiaan dalam kesatuan.
Dan di dunia ini juga
Kristus memanggil kita untuk menghidupi panggilan pemulihan kita
sebagai dorongan bagi karya kerasulan kita
(bd. GS 38).

(24)
Hidup pemulihan itu terkadang dihayati
dengan mempersembahkan penderitaan,
yang kita tanggung dengan sabar dan pasrah,
bahkan dalam kegelapan dan kesepian,
sebagai persatuan yang agung dan tak terpahami
dengan penderitaan dan wafat Kristus demi penebusan dunia.
 
Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus untuk tubuhNya, yaitu jemaat (Kol 1:24).

(25)
Dengan menjiwai keberadaan kita,
apa yang kita buat dan derita demi pelayanan Injil,
cintakasih kita - melalui keikutsertaan dalam karya rekonsiliasi -
menyembuhkan kemanusiaan,
menghimpunkannya dalam Tubuh Kristus,
dan menguduskannya demi kemuliaan dan sukacita Allah.

4. Mengambil Bagian dalam Pengutusan Gereja

(26)

Kita, sebagai Imam-imam Hati Kudus Yesus,
sekarang ini menghayati warisan Pater Dehon
di dalam Tarekat kita.
 
Kita adalah kaum religius
yang dibaktikan bagi Tuhan melalui kaul kita,
dalam sebuah pandangan rohani yang diakui oleh Gereja,
yakni pandangan rohani Bapa Pendiri kita.
 
Mengikuti dia, berkat rahmat khusus dari Allah,
kita dipanggil dalam Gereja
untuk mencari dan mengarahkan hidup persatuan
kepada pemberian diri Kristus
sebagai satu-satunya yang perlu.

(27)
Pembaktian itu pada dirinya sendiri
sudah mengandung kes uburan apostolik yang nyata.
Sama halnya setiap karisma di dalam Gereja,
karisma kenabian kita menempatkan kita
pada pelayanan misi keselamatan Umat Allah
dalam dunia saat ini (bd. LG 12).

(28)
Karena besar nya keinginan kita
untuk bersatu erat dengan Tuhan,
kita mencari tanda-tanda kehadiranNya
dalam kehidupan manusia,
di mana berkarya cintakasih yang menyelamatkan.
 
Dengan berbagi dalam suka dan duka kita,
Kristus telah mengidentikkan diri
dengan orang-orang kecil dan miskin;
kepada merekalah Kabar Gembira diwartakan.
 
Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku (Mat 25:40).
 
Roh Tuhan ada di atas-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberikan pembebasan bagi orang-orang tahanan dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan bahwa tahun kesukaan Tuhan telah datang (Luk 4:18-19).

(29)
Dengan mengikuti jejak Kristus,
kita harus hidup dalam solidaritas efektif
dengan semua orang.
 
Peka akan semua hal, dalam dunia sekarang ini,
yang menghalangi cintakasih Tuhan,
kita memberi kesaksian bahwa usaha manusia
untuk mencapai kepenuhan Kerajaan Allah
perlu dimurnikan terus-menerus
dan diubah oleh salib dan kebangkitan Kristus:
 
Para religius dengan status hidup mereka memberikan kesaksian yang cemerlang dan luhur, bahwa dunia tidak dapat diubah dan dipersembahkan kepada Allah, tanpa semangat Sabda Bahagia (LG 31).

(30)
Dari kodratnya,
Tarekat kita adalah Tarekat apostolik,
maka dengan senang hati kita merelakan diri
untuk melayani Gereja
dalam berbagai tugas pastoralnya.
 
Meskipun didirikan tidak untuk sebuah karya tertentu,
namun t arekat kita mendapat warisan dari Bapa Pendiri
beberapa pengarahan apostolik;
yang mengungkapkan kekhasan perutusan Tarekat dalam Gereja.

(31)
Bagi Pater Dehon,
adorasi ekaristis sebagai suatu pelayanan otentik Gereja
(bd. NQ, 1-3-1893),
merupakan karya perutusan, yang kita jalankan dengan semangat
persembahan diri dan cintakasih.
Perutusan itu meliputi juga
pelayanan kepada orang-orang kecil dan rendah,
kaum buruh dan orang-orang miskin (Souvenirs XV),
untuk mewartakan kepada mereka
kekayaan Kristus yang tak terduga itu (bd. Ef 3:8).
 
Demi melaksanakan pelayanan tersebut,
Pater Dehon memberi prioritas pada pendidikan para imam
dan para religius.
 
Bagi Pater Dehon kegiatan misi
merupakan suatu bentuk istimewa
dari pelayanan apostolik.
 
Dalam semua karya itu,
Pater Dehon memiliki keprihatinan yang tetap
agar supaya komunitas manusiawi yang dikuduskan dalam Roh Kudus,
menjadi suatu persembahan
yang berkenan kepada Allah (bd. Rom 15:16).

(32)
Sebagai pengikut Bapa Pendiri,
dengan memperhatikan tanda-tanda zaman
dan dalam kesatuan dengan hidup Gereja,
kita ingin berkolaborasi
untuk menegakkan kerajaan keadilan
dan cintakasih kristiani di dunia ini (Souvenirs XI).
 
Sesuai dengan waktu dan tempatnya,
direktorium-direktorium partikular harus menentukan
karya-karya konkrit dalam Gereja lokal,
yang sejalan dengan pengarahan-pengarahan pastoral tersebut.

(33)
Bagi kita, seperti bagi Pater Dehon,
karya para misionaris kita
tetap mempunyai arti yang istimewa.
 
Seluruh Kongregasi hadir dalam pelayanan evangelisasi mereka,
dengan cara itu mereka memberikan
kepada umat manusia bukti persahabatan ini:
tinggal di tengah-tengah mereka
demi pelayanan Kabar Gembira.

(34)
Pelayanan Injil dalam Gereja universal,
kita wujudkan bersama dengan mereka
yang bertanggung jawab dalam Gereja-Gereja lokal.
 
Bersama dengan mereka,
kita harus mencari bentuk-bentuk keikutsertaan kita dalam perutusan Gereja
yang memungkinkan kita mengembangkan kekayaan panggilan kita.

5. Penuh Perhatian terhadap Kebutuhan-kebutuhan Dunia.

(35)
Hidup pemberian diri yang dimunculkan dalam hati kita
oleh cintakasih Tuhan yang cuma-cuma,
membuat kita serupa dengan pemberian diri Kristus,
yang karena cintakasih,
dipersembahkan seutuhnya kepada Bapa
dan kepada manusia.
 
Bersama dengan Tuhan yang miskin dan taat,
hidup pemberian diri itu mendorong kita
untuk selalu mencari dengan lebih setia
kehendak Bapa atas diri kita dan dunia.
 
Hidup pemberian itu menjadikan kita
lebih peka pada berbagai kebutuhan
melalui aneka peristiwa yang kecil dan yang besar
dan dalam harapan-harapan manusiawi serta realisasinya.

(36)
Kita tahu bahwa dunia sekarang ini
ditandai dengan usaha yang intensif
untuk memperjuangkan kebebasan:
kebebasan dari segala sesuatu yang melukai martabat manusia
dan yang mengancam realisasi dari kerinduan yang terdalam:
kebenaran, keadilan, cintakasih, kebebasan (bd. GS 26-27).
 
Adapun di balik semua tuntutan itu tersembunyi suatu dambaan yang lebih mendalam dan lebih umum, yakni: pribadi-pribadi maupun kelompok-kelompok haus akan kehidupan yang sepenuhnya, bersifat bebas, dan layak bagi manusia.... Dengan demikian dunia masa kini nampak sekaligus penuh kekuatan dan kelemahan, mampu menjalankan yang paling baik maupun yang paling buruk. Baginya terbuka jalan menuju kebebasan atau perbudakan, kemajuan atau kemunduran, persaudaraan atau kebencian. Kecuali itu manusia menyadari kewajibannya mengemudikan dengan cermat kekuatan-kekuatan yang dibangkitkannya sendiri, dan yang dapat menindas atau melayaninya. Maka ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada dirinya (GS 9).

(37)
Melalui semua pertanyaan dan pencarian itu,
kita mengetahui harapan atas jawaban
yang dirindukan manusia,
tanpa manusia sendiri dapat
merumuskan jawaban nya secara tuntas.
 
Kita ikut ambil bagian dalam kerinduan orang sezaman
sebagai suatu keterbukaan yang mungkin
bagi datangnya suatu dunia yang lebih manusiawi,
meskipun di dalamnya terkandung juga
resiko kegagalan dan kemerosotan.
 
Dalam iman dan kesetiaan kepada ajaran Gereja,
kita mengaitkan kerinduan tersebut
dengan kedatangan Kerajaan
yang telah dijanjikan dan diwujudkan Allah
dalam PuteraNya.

(38)
Panggilan kita tidak memisahkan kita dari masyarakat;
sebaliknya pengikraran nasihat-nasihat Injil menjadikan kita
lebih solider dengan hidup mereka.
 
Dalam cara hidup dan bertindak kita,
dan melalui keikutsertaan kita
dalam membangun masyarakat duniawi
serta dalam mewujudkan Tubuh Kristus,
kita harus menjadi tanda yang efektif,
bahwa Kerajaan Allah dan keadilannya lah yang harus dicari
di atas segala sesuatu dan di dalam segala sesuatu (bd. Mat 6:33).
 
Jangan pula orang mengira, bahwa para religius karena serah diri mereka atau terasingkan dari orang-orang, atau tidak berguna lagi dalam masyarakat duniawi. Sebab meskipun ada kalanya mereka itu tidak langsung berhubungan dengan sesama, namun secara lebih mendalam mereka mengenangkan sesama dalam kasih mesra Kristus, dan secara rohani bekerja sama dengan sesama, supaya pembangunan masyarakat duniawi selalu bertumpu kepada Tuhan dan diarahkan kepadaNya, sehingga para pembangunnya jangan bekerja dengan sia-sia (LG 46).

(39)
Adalah suatu kesaksian kenabian
bahwa dengan rahmat Allah
kita ingin menjalankan hidup religius kita:
dengan melibatkan diri sueutuhnya
demi terwujudnya kemanusiaan baru dalam Yesus Kristus.

*

Top
Daftar Isi

:: © SCJ Propinsi Indonesia - Terima kasih Anda telah mengunjungi situs ini ::