Menu Utama

     Pendiri SCJ

     Kongregasi SCJ
Pedoman Hidup SCJ   
     Propinsi Indonesia
     Karya
     Komunitas
     Elenchus
     Doa Persembahan
     Artikel
     Necrologium
     Link Propinsi SCJ
     BLOG Berita
 
Kontak - Info


Propinsialat SCJ Indonesia

Jl. Karya Baru 552/94  Km.7
Palembang  30152
Sumatera Selatan
Indonesia
Telp. +062 0711 410835
Fax. +062 0711 417533
Email: sekpropscj@gmail.com

 

 

Pedoman Hidup

Cari Nomor:

BAGIAN KEDUA (b)

MENGIKUTI KRISTUS
(nn. 40-85)

B. MENERUSKAN KOMUNITAS MURID MURID YESUS

1. Panggilan untuk Menghayati Sabda Bahagia


(40)
Untuk mengungkapkan dan mewujudkan
pembaktian diri kita sepenuhnya kepada Allah
dan untuk mempersatukan seluruh hidup kita
dengan persembahan diri Kristus,
kita mengikrarkan nasihat-nasihat Injil
melalui kaul-kaul: selibat yang dibaktikan, kemiskinan, dan ketaatan
(bd. LG 44, PC 1).
Kaul -kaul tersebut menjadikan kita bebas
untuk mewujudkan cintakasih yang sejati,
menurut semangat Sabda Bahagia (bd. LG 31).
 
Usaha untuk mencapai kebebasan dalam Yesus Kristus
itu merupakan suatu kesaksian bagi dunia
dan merupakan suatu tanggung jawab yang permanen
bagi kita sendiri.
 
a. Menghayati Selibat yang Dibaktikan (Kemurnian)
 
(41)
Kristus memberikan Diri seutuhnya
kepada Bapa dan kepada manusia
dalam cintakasih yang tanpa batas.
 
Melalui kaul Selibat yang dibaktikan,
anugerah Allah bagi mereka yang dapat mengertinya (Mat 19:11),
kita mewajibkan diri di hadapan Allah
untuk menghayati kemurnian sempurna dalam selibat
demi Kerajaan Allah dan untuk mengikuti Kristus dalam cintakasihNya
kepada Allah dan kepada saudara-saudaraNya,
dan dalam cara Dia hadir di tengah manusia.
 
(42)
Kesetiaan yang dipegang teguh,
yang sering kali disertai dengan usaha yang sungguh-sungguh (bd. Mat 5:29),
khususnya melalui persatuan dengan Kristus
dalam sakramen-sakramen dan melalui mati raga pribadi,
membebaskan hati kita,
dan membuat kita terbuka bagi bisikan Roh
dan bagi perjumpaan dengan sesama
dalam kasih persaudaraan.
 
Melalui perjumpaan yang sejati,
komitment itu memungkinkan kita untuk membentuk komunitas-komunitas
tempat kita dapat mencapai kepenuhan manusiawi kita
dan membentuk suatu awal keluarga baru
yang berdasarkan pada kekuatan spiritual dari cintakasih.
 
(43)
Dengan mengikuti teladan Pater Dehon,
kita mengemban tugas perutusan
untuk memberi kesaksian tentang cintakasih Kristus
di dalam dunia yang sedang mengusahakan
suatu persatuan yang sukar diwujudkan,
dan sedang mengusahakan hubungan-hubungan baru
antar pribadi maupun antar kelompok.
 
Kaul selibat yang dibaktikan membuat kita ikut ambil bagian
dalam pembangunan kemanusiaan baru,
yang terbuka terhadap kesatuan dalam Kerajaan.
 
b. Miskin menurut Injil
 
(44)
Kristus telah menjadikan diriNya miskin
untuk menjadikan kita kaya
oleh karena kemiskinanNya.
 
Kamu telah mengenal kasih-karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinanNya (2 Kor 8:9).
 
Kristus mengundang kita ikut serta
dalam kebahagiaan orang-orang miskin
dalam penyerahan diri
sebagai anak kepada Bapa (bd. Mat 5:3).
 
Kita hendaknya ingat akan undanganNya
yang mendesak ini:
Pergilah, juallah segala milikmu,
dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin,
kemudian datanglah ke mari dan ikutilah Aku
(Mat 19:21).
 
(45)
Dengan kaul kemiskinan
kita melepaskan hak untuk menggunakan harta benda,
dan tanpa izin para Superior kita tidak mengurus harta benda
yang dapat dinilai dengan uang :
a. Hasil kerja kita, gaji dan honor, derma dan subsidi, pembayaran asuransi dan apa saja yang kita terima, merupakan milik Tarekat.
b. Kita tetap mempunyai hak untuk memiliki harta warisan, dan kita tetap masih dapat memperoleh warisan yang lain.
c. Sebelum profesi pertama, pengurusan harta warisan itu kita serahkan kepada seorang pilihan kita sendiri; dan kita menentukan secara bebas bagaimana harta warisan itu harus dipergunakan dan siapa yang memperoleh hasilnya. Sebelum mengikrarkan profesi kekal, kita membuat surat wasiat yang sah menurut hukum sipil. Apa yang sudah kita tentukan itu tidak dapat kita ubah lagi di kemudian hari selain dengan izin Superior mayor.
d. Dengan wewenang Superior Jendral, serta dengan persetujuan Dewannya, kita dapat melepaskan milik warisan kita paling cepat sepuluh tahun sesudah profesi pertama.
 
(46)
Penggunaan bersama-sama harta benda
dalam suasana kasih persaudaraan,
kita membuktikan bahwa, dalam dan bersama dengan Gereja,
kita menjadi tanda di tengah saudara-saudara kita.
 
Kemiskinan Injil i memanggil kita untuk melepaskan diri
dari kehausan akan kepe milik an dan kesenangan,
yang menjadi penghalang bagi hati manusia.
 
Kemiskinan itu menyemangati kita
untuk hidup dalam suasana kepercayaan
dan cinta tanpa pamrih.
 
(47)
Dalam semangat ini,
setiap anggota mengemban sepenuhnya
tanggung jawab pribadinya dalam hal kemiskinan.
 
Pelaksanaan kemiskinan dalam sikap ketergantungan
akan menjadi kriteria kesetiaan yang benar,
jikalau ketergantungan itu mengungkapkan
semangat kemiskinan yang berdaya guna
dan diterima dengan bebas.
 
(48)
Karya kita yang beraneka ragam itu,
baik dibayar atau tidak,
membuat kita sungguh berpartisipasi
dalam hidup dan kondisi manusia zaman kita ini;
karya itu juga mengungkapkan kemiskinan kita
demi pelayanan Kerajaan Allah.
 
(49)
Kemiskinan itu menuntut
kita bersama-sama untuk mencari
pola hidup sederhana dan tidak mewah;
dan kita mewujudkan tanggung jawab
dalam penggunaan harta benda kita
di hadapan komunitas.
 
(50)
Kemiskinan itu juga menjadikan kita
pelayan Allah dan sesama.
Kini kita menjadi lebih sadar akan kemalangan banyak manusia zaman ini:
kita mendengar jeritan orang-orang miskin (Evangelica Testificatio 17).
 
Kemalangan yang permanen,
baik individual maupun sosial itu,
merupakan suatu panggilan yang terus-menerus
bagi pertobatan mentalitas dan tingkah laku kita.
 
Jika kita melaksanakan dengan sungguh-sungguh

(51)
komitmen hidup miskin itu,
maka kita akan rela untuk berbagi antar kita,
dan rela untuk berbela rasa
dengan orang-orang miskin, serta mereka yang membutuhkan.
 
Kita akan lebih memperhatikan mereka
yang paling membutuhkan
untuk diterima dan dicintai:
kita semua bersikap solider
dengan saudara-saudara kita
yang membaktikan diri untuk melayani mereka itu.
 
Kita hendaknya berusaha menghindari
segala bentuk ketidakadilan sosial.
 
Hanya dengan cara i ni lah,
dan dengan mengikuti petunjuk Gereja,
kita dapat membangkitkan kesadaran
akan tragedi kemalangan
dan akan tuntutan-tuntutan keadilan (bd. ET 17).
 
(52)
Dalam usaha itu
kita akan menjadi murid-murid Pater Dehon,
yang selalu ingin solider dengan orang-orang sezamannya,
terutama yang paling miskin:
mereka yang tidak mempunyai sumber rezeki,
tanpa semangat hidup, dan tanpa harapan.
 
Bagi kita, sama seperti bagi Pater Dehon,
komitmen kemiskinan itu mau menandakan
persembahan seluruh hidup kita untuk melayani Injil.
 
c. Terbuka kepada Allah dalam Ketaatan
 
(53)
Yesus telah menjadikan diri taat dalam cintakasih
kepada kehendak BapaNya:
kesiapsediaanNya tersebut nampak secara khusus
dalam perhatian dan keterbukaan Nya
terhadap kebutuhan dan harapan manusia.
 
Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaanNya (Yoh 4:34).
 
Dengan mengikuti teladan Kristus,
melalui pengikraran kaul ketaatan,
kita ingin mengorbankan diri kita sendiri kepada Allah,
dan mempersatukan diri lebih teguh
dengan rencana penyelamatanNya.
 
Ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata: 'Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki; tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiKu. Kepada korban bakaran dan korban penghapus dosa Engkau tidak berkenan. Lalu Aku berkata: Sungguh Aku datang; dalam gulungan Kitab ada tertulis tentang Aku, untuk melakukan kehendakMu, ya AllahKu'.... Dan karena kehendakNya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus (Ibr 10:5-7.10).
 
(54)
Untuk mencapai tujuan itu, melalui kaul ketaatan,
kita menyediakan diri sepenuhnya
bagi pelayanan Kongregasi kita
dalam tugas perutusan Gereja.
 
Oleh karena itu, kita berkomitmen
untuk mentaati para Superior kita
dalam pelaksanaan pelayanan kepemimpinannya yang sah,
sesuai dengan Konstitusi,
mengenai semua hal yang menyangkut
kehidupan Kongregasi dan pelaksanaan ketiga kaul.
 
Dengan cara yang sama kita harus taat juga
kepada Sri Paus dan Tahta Suci.
Tetapi kaul kita tidak hanya mengikat
ketika para Superior dapat menuntutnya
demi kaul tersebut :
kaul ketaatan mengintegrasikan
seluruh hidup kita dalam rencana Allah.
 
(55)
Dalam semangat kesiapsediaan dari semua anggota,
melalui dialog terbuka dan penuh hormat dari setiap anggota,
dan sesuai dengan arahan pihak Superior,
kaul ketaatan menghimpun kita dalam hidup berkomunitas,
di mana kita mencari kehendak Allah.
 
Kita menunjukkan sikap hormat dan loyal
terhadap para Superior kita;
kita bekerja sama dengan mereka
dalam tanggungjawab yang nyata
demi kepentingan bersama.
 
(56)
Tentang kepentingan bersama itu,
tanpa menjadi satu-satunya penanggungjawab,
Superior kita merupakan pelayan utamanya.
 
Superior memotivasi kesetiaaan hidup religius dan kerasulan
dari masing-masing pribadi maupun komunitas,
sama seperti Kristus - Hamba
mempersatukan murid-muridNya
dalam pelayanan bersama bagi rencana Bapa.
 
(57)
Kita harus memperhatikan
yang disarankan oleh Roh Kudus kepada kita,
melalui Sabda Allah yang kita terima di dalam Gereja,
dan melalui peristiwa-peristiwa kehidupan.
 
Dengan demikian, di tengah dunia,
di mana manusia mendambakan kebebasan,
kita berkehendak memberi kesaksian
tentang kebebasan yang sejati
yang telah diperoleh Kristus bagi kita,
dan kebebasan itu hanya dapat dicapai
dengan menyesuaikan diri dengan kehendak Bapa.
 
(58)
Menurut pandangan Pater Dehon:
Ecce Venio (Sungguh, Aku Datang) (Ibr 10:7)
mengungkapkan s ikap dasar hidup kita.
Sikap itu menjadikan ketaatan kita sebagai suatu persembahan,
dan menjadikan hidup kita serupa dengan Kristus,
untuk penebusan dunia, demi kemuliaan Bapa.
 
2. Dipanggil untuk Hidup Berkomunitas
 
(59)
Di dalam Gereja kita dipanggil
untuk mengikuti Kristus
dan untuk berada di dunia ini
sebagai saksi-saksi serta pelayan-pelayan persatuan manusia
dalam suatu komunitas persaudaraan.
 
K ita melibatkan diri s ecara bebas
dalam hidup berkomunitas itu
berkat anugerah Roh Kudus.
 
Kita mencari inspirasi dan contoh teladan
dalam komunitas murid-murid
yang dihimpun di sekitar Tuhan Yesus
dan dalam komunitas-komunitas Kristen perdana.
 
Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.... Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing (Kis 2:42-45).
 
Hidup berkomunitas itu kita wujudkan
di dalam suatu komunitas Tarekat kita
yang telah didirikan menurut Hukum Gereja.
 
a. Melayani Perutusan Bersama
 
(60)
Profesi nasihat-nasihat Injil,
yang kita hayati dalam komunitas,
merupakan ungkapan utama hidup kerasulan kita:
profesi itu memberi kesaksian tentang kehadiran Kristus
dan mewartakan kedatangan Kerajaan Allah (bd. PC 15).
 
(61)
Hidup berkomunitas kita
adalah untuk pelayanan bagi perutusan apostolik kita
menurut panggilan khusus kita.
Hidup berkomunitas mendapatkan daya kekuatan
dalam pelaksanaan pelayanan itu.
 
Komunitas membiarkan diri dipertanyakan
oleh orang-orang di sekitarnya.
Komunitas bermaksud ikut serta dan mendukung
usaha mereka dalam rekonsiliasi dan persaudaraan.
 
(62)
Pentinglah bahwa dalam tugasnya,
setiap anggota menyadari sebagai utusan komunitasnya;
dan bahwa setiap anggota menaruh perhatian dan terlibat
melalui pe r utusan masing-masing,
terlebih kalau suatu komunitas harus menangani
pelayanan yang berbeda-beda.
 
b. Bertekun dalam Persekutuan (Kis 2:42)
 
(63)
Hidup berkomunitas kita
bukan hanya merupakan suatu sarana;
meskipun harus selalu disempurnakan,
hidup berkomunitas itu merupakan
perwujudan paling nyata
dari hidup kita sebagai orang kristen.
 
Kita membiarkan diri diresapi oleh cintakasih Kristus,
dan kita mendengarkan doaNya
"Sint Unum" - "Supaya mereka bersatu";
kita berusaha supaya komunitas-komunitas kita
menjadi keluarga sejati dari hidup Injili.
Hal itu terlaksana dalam penerimaan terhadap orang lain
dalam sharing kehidupan, dalam keramahtamahan,
dengan tetap menghargai tempat-tempat khusus
bagi anggota komunitas saja.
 
(64)
Tentu saja,
sama halnya seperti setiap orang kristen,
kita belum sempurna juga;
namun kita ingin menciptakan lingkungan
yang mendukung perkembangan rohani setiap anggota.
 
Bagaimana mencapai taraf itu,
kecuali dengan cara memperdalam
hubungan kita yang paling biasa
dengan setiap orang dari saudara kita
dalam Tuhan?
 
Cintakasih harus menjadi harapan aktif
yang dapat dicapai oleh yang lain
dengan bantuan dan dukungan persaudaraan kita.
 
Tanda kebenaran cintakasih itu ialah kesederhanaan,
yang dengannya kita semua berusaha
untuk mengerti apa yang ada
di dalam hati masing-masing saudara (bd. ET 39).
 
(65)
Dalam persekutuan,
bahkan baik melalui konflik-konflik,
maupun dalam pengampunan timbal balik,
kita ingin menandakan
bahwa persaudaraan yang dirindukan bangsa manusia,
dapat diwujudkan dalam Yesus Kristus;
dan bahwa kita ingin menjadi pelayannya.
 
(66)
Hidup berkomunitas menuntut agar setiap anggota
menerima yang lain apa adanya,
dengan kepribadian masing-masing,
tugas mereka, inisiatif mereka,
dan keterbatasan serta kelemahan mereka;
dan membiarkan diri untuk dimintai pertanggungjawaban
oleh saudara-saudaranya.
 
(67)
Penerimaan dan keterbukaan itu
merupakan dasar dialog yang sejati,
yang dijalankan dalam saling menghormati,
dalam kasih persaudaraan, solidaritas,
dan tanggung jawab bersama.
 
Dengan demikian komunitas juga berusaha
memberi kesaksian tentang Kristus,
sebab dalam Kristuslah komunitas dihimpun.
Komunitas juga dapat memberikan
bantuan yang amat berharga
bagi perkembangan pribadi para anggotanya.
 
(68)
Di dalam komunitas,
baik komunitas lokal, distrik, regional maupun provinsi,
kita menaruh cintakasih yang istimewa
kepada saudara-saudara kita yang sakit
atau yang sudah lanjut usia.
 
Melalui mereka secara khusus
Tuhan mendorong kita
kepada penyerahan diri yang otentik,
dan Tuhan mengingatkan kita
betapa rapuh hidup kita;
dan di dalam mereka Tuhan ingin dikenal
dan dilayani secara khusus (bd. Mat 25:40).
 
Sebaliknya,
hendaknya saudara-saudara kita yang sakit dan tua itu,
menerima perhatian dan perawatan
yang diberikan kepada mereka
sebagai ungkapan cintakasih Kristus sendiri,
yang telah meminta para muridNya
untuk menerima pelayanan yang paling rendah sekalipun (bd. Yoh 13:8).
 
(69)
Persekutuan yang menyatukan kita
akan mencapai kepenuhannya dalam hidup kekal.
Dengan demikian marilah kita tetap bersatu
dengan saudara-saudara kita yang sudah meninggal,
melalui doa dan dalam pengharapan kita.
 
c. Dalam Komunitas Kehidupan
 
(70)
Pengelolaan komunitas merupakan
suatu bantuan dan pelayanan bagi semua anggota.
 
Untuk melaksanakan fungsi spiritual dan apostolik,
dan dengan persetujuan para Superior mayor,
setiap komunitas memilih
struktur-strukturnya sendiri,
sesuai dengan tujuan komunitas.
Setiap anggota hendaknya menghargai
struktur-struktur tersebut.
 
Komunitas hendaknya secara berkala meninjau kembali
bentuk pengelolaan komunitas dengan gaya hidupnya,
serta merefleksikan pe r utusannya
dan menyesuaikan diri dengan program umum Kongregasi.
 
(71)
Demi perkembangan pribadi,
masing-masing anggota hendaknya memiliki
suatu pedoman hidup pribadi.
Terbatasnya jumlah peraturan untuk komunitas
membuat tuntutan ini sangat perlu
demi kepentingan semua anggota.
Hal ini mengandaikan
bahwa setiap anggota mengusahakan
suasana yang menguntungkan bagi ketenangan batin,
khususnya dengan penggunaan media komunikasi
secara ugahari.
 
(72)
Superior mengusahakan
supaya setiap anggota komunitas
dapat menunaikan karya personal
dan yang menjadi tanggung jawabnya.
 
Untuk lebih memahami kehendak Allah,
Superior hendaknya meminta pertimbangan
komunitasnya dalam suasana persaudaraan.
Ia hendaknya mengambil keputusan
dengan bijaksana dan penuh tanggung jawab.
Dalam hal-hal yang menyangkut pribadi,
Superior hendaknya mampu berdialog
dengan setiap anggota.
 
(73)
Karena alasan-alasan pastoral yang memadai,
pendirian dan pengelolaan komunitas-komunitas teritorial
dapat diputuskan oleh Superior mayor yang berwenang
dengan persetujuan Dewannya
dan sesuai dengan arahan yang termuat dalam Direktorium Jendral
dan Direktorium Provinsi.
 
Di bawah pengarahan seorang penanggung jawab,
semua anggota komunitas bersama-sama
menyusun program hidup berkomunitas
dan menentukan sarana-sarana untuk mewujudkannya.
 
Mereka tetap mempunyai kewajiban terhadap komunitas
dan mempunyai hak mendapat bantuan persaudaraan
yang merupakan konsekwensi dari profesi religius.
 
Menjadi tugas para Superior
untuk menilai otentisitas dimensi komuniter
dalam hidup religius para anggotanya.
 
(74)
Komunitas-komunitas,
dengan fungsinya yang berbeda-beda,
berkontribusi untuk perutusan bersama
dari provinsi, regio dan distrik mereka.
Seluruh Entitas bersama-sama
berkontribusi untuk perutusan Kongregasi.
 
(75)
Demi solidaritas,
perlu digalakkan dan ditingkatkan kontak dan komunikasi
antar berbagai komunitas,
antar komunitas dengan provinsi, regio, dan distriknya,
dan antar entitas-entitas tersebut,
dan akhirnya entitas-entitas dengan jendralat.
 
Kerjasama yang terus-menerus itu
menjamin kelangsungan dan kesetiaan,
yang dibutuhkan demi dinamis me seluruh Tarekat.
Hal itu memungkinkan pula penyesuaian perutusan kita
dan penemuan inspirasi bersama yang di perlu kan bagi kesatuan.
Kerjasama itu menjamin secara efektif dan efisien
partisipasi aktif kita bagi karya bersama.
 
d. Bertekun dalam Doa (Kis 2:42)
 
(76)
Kita mengakui bahwa kesetiaan
kita masing-masing dan komunitas kita
serta kesuburan karya kerasulan
tergantung pada ketekunan doa.
 
Kristus mengundang para muridNya,
terutama sahabat-sahabatNya,
untuk berdoa dengan tekun.
Kita ingin menjawab undangan itu.
 
Yesus menegaskan bahwa mereka selalu harus berdoa
dengan tidak jemu-jemu (Luk 18:1).
Berjaga-jagalah dan berdoalah,
supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan (Mat 26:41).
 
(77)
Hendaknya kita sering menyediakan diri
untuk mendengarkan Sabda Allah.
Kita merenungkan cintakasih Kristus
dalam peristiwa-peristiwa hidup Nya sendiri
dan dalam hidup manusia;
dihidupi oleh kesatuan denganNya,
kita mempersatukan diri
dengan persembahan diriNya demi keselamatan dunia.
 
Dengan cara itulah kita dapat menerima
roh kebijaksanaan dan roh perwahyuan
untuk mengetahui dan sungguh mengenal
Kristus -Tuhan serta pengharapan
yang terkandung dalam panggilanNya (Ef 1:17-18)
 
(78)
Dengan menyambut Roh,
yang berdoa di dalam diri kita
dan yang datang membantu
dalam kelemahan kita (bd. Rom 8:26-27),
kita ingin memuji dan menyembah
Bapa surgawi yang setiap hari mewujudkan
karya penyelamatanNya di tengah-tengah kita dalam PuteraNya.
Bapa telah mempercayakan kepada kita
pelayanan pe n damaian (bd. 2 Kor 5:18):
 
Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa (Rom 8:26).
Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.... Kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: 'Ya Abba, ya Bapa' (Rom 8:14-15).
 
Seraya kita berkembang
dalam pengenalan akan Yesus,
doa mempererat persatuan hidup bersama
dan membuka terus-menerus kesadaran akan tugas perutusannya.
 
(79)
Sebagaimana Yesus gemar bersatu dengan BapaNya,
kita juga menyediakan bagi diri sendiri waktu tenang dan hening
untuk membiarkan diri diperbaharui
dalam persatuan mesra dengan Kristus,
dan mempersatukan diri
dengan cintakasihNya bagi manusia.
 
Tanpa semangat doa, doa pribadi hancur.
Tanpa doa komunitas, komunitas iman jadi kendor.
 
Mengikuti panggilan Tuhan
untuk terus-menerus bertobat,
hendaknya kita penuh perhatian
menyadari dosa dalam hidup kita,
dan sering kali merayakan
pengampunan Tuhan dalam Sakramen Rekonsiliasi.

a. Setiap komunitas menentukan waktu dan bentuk doa bersama, yang mengungkapkan semangat hidup religius kita, dan kita turut serta dengan doa Gereja, khususnya Ibadat Pagi dan Ibadat Sore.
b. Di luar waktu tersebut, setiap anggota hendaknya menyediakan cukup waktu untuk berdoa setiap hari, sesuai dengan petunjuk Direktorium Partikular, dan seturut anjuran Bapa Pendiri: Untuk membangun hidup batin, hendaknya saudara menyediakan waktu setiap hari paling tidak setengah jam untuk doa batin di pagi hari dan setengah jam untuk adorasi pemulihan (Test.Sprit.).
c. Komunitas hendaknya meminta pertimbangan Superior mayor terhadap hidup doa komunitas.
d. Superior mayor untuk Provinsi atau Regio, dan Superior setempat untuk komunitasnya berwenang memberi izin kepada para religiusnya untuk berkotbah di gereja-gereja atau di rumah doa Tarekat.
e. Untuk penerbitan dalam bidang iman dan moral, dituntut izin dari Superior mayor di samping izin dari Uskup setempat.
 
3. Bertekun dalam Pemecahan Roti (Kis 2:42)
 
(80)
Seluruh hidup kita
sebagai orang kristen dan religius
mendapat sumber dan puncaknya dalam Ekaristi (bd. LG 11).
 
Merayakan kenangan akan wafat dan kebangkitan Tuhan
bagi kita merupakan saat istimewa
dari iman dan dari panggilan kita
sebagai Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus.
 
(81)
Setiap hari kita dipanggil
untuk ambil bagian dalam korban Perjanjian Baru;
kita mempersatukan diri kita
dengan pengorbanan diri yang sempurna
yang dipersembahkan Kristus kepada Bapa,
supaya dengannya kita mempersatukan korban rohani hidup kita.
 
Demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati (Rom 12:1).
 
Sebagai perjanjian cintakasih Kristus yang memberikan diriNya
supaya Gereja terbentuk dalam kesatuan,
dan dengan demikian Gereja mewartakan harapan bagi dunia;
Ekaristi mewarnai seluruh hidup kita
dan segala sesuatu yang kita kerjakan.
 
(82)
Melalui perayaan Ekaristi,
bersatu dengan seluruh Gereja
dalam pengenangan dan dalam kehadiran Tuhan,
kita menyambut Dia yang menghimpun kita dalam hidup bersama,
yang menguduskan kita bagi Allah,
dan yang tanpa henti mendorong kita untuk menelusuri jalan-jalan dunia
demi pelayanan Injil.
 
'Inilah tubuhKu, yang diserahkan bagi kamu;.... Cawan ini adalah Perjanjian Baru yang dimeteraikan oleh darahKu; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!'.... Setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang (1 Kor 11:24-26).
 
(83)
Dalam adorasi, yang berkaitan sangat erat
dengan Perayaan Ekaristi,
kita me renungkan kekayaan misteri iman kita,
supaya Tubuh dan Darah Kristus,
yang menjadi santapan hidup kekal,
mentransformasi secara mendasar hidup kita.
 
Barangsiapa makan dagingKu dan minum darahKu, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab dagingKu adalah benar-benar makanan dan darahKu adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan dagingKu dan minum darahKu, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia (Yoh 6:54-56).
 
Dengan adorasi itu kita memenuhi
salah satu tuntutan panggilan pemulihan kita.
Dalam adorasi ekaristis,
kita ingin memperdalam persatuan kita dengan korban Kristus
demi rekonsiliasi manusia dengan Allah.
 
(84)
Kebaktian ekaristi s membuat kita menaruh perhatian
terhadap cintakasih dan kesetiaan Tuhan
dalam kehadiranNya di dunia kita ini.
 
Bersatu dengan ungkapan syukur dan permohonan Kristus,
kita dipanggil untuk melayani,
melalui seluruh hidup kita,
Perjanjian Allah dengan umatNya
dan berkarya demi kesatuan umat kristiani
dan antar umat manusia.
 
Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu" (1 Kor 10:17).
 
Dengan demikian
kita ingin menjawab undangan
yang Kristus tujukan kepada kita
untuk berjumpa dan bersatu
melalui tanda-tanda istimewa kehadiranNya.
 
4. Bersama Bunda Maria
 
(85)
Sebagai Bunda Yesus,
Maria dilibatkan secara intim
dengan hidup dan karya penebusan Puteranya.
 
Sebagai Bunda Gereja,
melalui doa dan permohonannya selaku Ibu,
Maria hadir bagi semua orang,
yang terlibat dalam karya apostolik,
dan yang bekerja demi kelahiran manusia kembali (bd. LG 65).
 
Marialah yang unggul di tengah umat Tuhan yang rendah dan miskin, yang penuh kepercayaan mendambakan serta menerima keselamatan dari Tuhan (LG 55).
 
Dengan sikap Ecce Ancilla - Aku ini hamba Tuhan,
Maria memberi inspirasi kepada kita untuk bersikap siap sedia dalam iman;
dialah gambaran sempurna bagi hidup religius kita.
 
Kita juga dengan senang hati
berdoa dan menghormatinya
sesuai dengan semangat dan petunjuk Gereja.
 
Kita menyadari bahwa kita bersatu secara lebih intim
dengan para kudus,
yang telah menghayati secara lebih nyata
persatuan hidup dengan Hati Yesus.

*

Top
Daftar Isi

:: © SCJ Propinsi Indonesia - Terima kasih Anda telah mengunjungi situs ini ::