Menu Utama

     Pendiri SCJ

     Kongregasi SCJ
Pedoman Hidup SCJ   
     Propinsi Indonesia
     Karya
     Komunitas
     Elenchus
     Doa Persembahan
     Artikel
     Necrologium
     Link Propinsi SCJ
     BLOG Berita
 
Kontak - Info


Propinsialat SCJ Indonesia

Jl. Karya Baru 552/94  Km.7
Palembang  30152
Sumatera Selatan
Indonesia
Telp. +062 0711 410835
Fax. +062 0711 417533
Email: sekpropscj@gmail.com

 

 

Pedoman Hidup

Cari Nomor:

BAGIAN KETIGA

INISIASI UNTUK
HIDUP RELIGIUS KITA

(no. 86 - 105)

1. Pastoral Panggilan

(86)
Roh Kudus yang sama
membagikan pelbagai karunia dan jabatan
demi pelayanan Umat Allah.
 
Sadar akan panggilan
yang bergema dalam hidup kita,
dan kita tergerak untuk menjawabnya dalam kesetiaan,
k ita ingin mengindahkan tindakan Roh,
dan membantu setiap orang, baik muda maupun dewasa,
untuk menemukan dan menjawab panggilannya
di tengah dunia, yang terus menerus menantikan pewartaan Injil.
 
Kita hendaknya menaruh perhatian khusus
untuk menyadarkan dan mengembangkan panggilan mereka,
yang menerima karunia
untuk mengikuti Kristus secara istimewa.
 
(87)
Dipanggil supaya kharisma Pater Dehon menghasilkan buah,
kita ingin ikut serta dalam tindakan Roh;
dan kita menjawab ajakan Kristus:
Mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian,
supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu (Luk 10:2);
kita juga ikut terlibat dalam pelbagai inisiatif Gereja
dalam pastoral panggilan.
 
(88)
Kita mengakui sumbangan
pelbagai ilmu pengetahuan manusiawi dan religius
bagi pastoral panggilan itu.
 
Kita harus yakin
bahwa teladan hidup, kegembiraan rohani,
dan kehendak teguh untuk melayani Allah dan sesama
tetap menarik para calon pada masa kini (bd. ET 55).
 
Oleh sebab itu,
setiap anggota dalam relasinya dengan orang lain
dan setiap komunitas dalam lingkungan
di mana komunitas itu melaksanakan perutusannya,
harus memberi kesaksian
tentang hidup yang otentik.
 
(89)
Bagi orang muda, juga bagi orang dewasa,
seringkali terjadi, dengan mendalami nilai-nilai manusiawi dan kristiani
dengan belajar melayani orang lain,
berkat Roh Kudus,
lahirlah kehendak untuk melayani
dalam hidup religius dan imamat.
 
Kita hendaknya memberi perhatian khusus
pada proses pendalaman nilai-nilai itu,
terlebih berkaitan dengan kesadaran akan orang lain,
kemurahan hati, dan otentisitas hidup,
dan tanggung jawab yang tegas dan tulus ikhlas.
 
Kita hendaknya mendukung pendalaman itu
sejauh kita dapat, yaitu melalui sumbangan kita
untuk pendidikan kristiani
di keluarga-keluarga dan di sekolah-sekolah.
 
(90)
Dalam pelbagai bentuk pertemuan kita
dengan kaum muda dan dewasa,
dan melalui semua karya pelayanan kita,
kita harus berusaha,
supaya undangan Tuhan ini bergema bagi mereka:
Mari, ikutlah Aku! (Mrk 1:17).
 
Setiap orang di antara kita, juga setiap komunitas kita,
hendaknya ikut bekerjasama dalam pastoral panggilan
yang direncanakan dalam p rovinsi, r egio dan d istrik
oleh para konfrater yang ditunjuk untuk tugas itu.
Tukar pengalaman antar bagian yang berbeda dalam Kongregasi
sangat dianjurkan.
 
 
2. Formasio
 
a. Berbagai Segi dalam Formasio
 
(91)
Komunitas hendaknya menyambut
dengan gembira hati setiap calon
yang akan memulai cara hidup dan perutusan Kongregasi kita.
 
Seluruh anggota komunitas dalam kolaborasi yang tulus,
dan dengan menghormati peran masing-masing,
hendaknya berusaha menciptakan suatu persekutuan hidup
dalam suasana doa, kerja, dan pelayanan apostolik.
 
Setiap religius harus ikut terlibat
dalam tugas formasio.
 
Dalam lingkungan yang menguntungkan tersebut,
si calon akan terbantu
dalam perkembangan aspek manusiawi dan rohani
dari panggilannya.
 
(92)
Komunitas menjamin si calon
untuk dapat sering berdialog dengan para Superior,
dan memperoleh bantuan dari para formator.
 
Komunitas memungkinkan si calon
untuk partisipasi dalam hidup komunitas;
komunitas berusaha untuk menciptakan suasana
yang menolong si calon untuk membentuk diri dalam hidup doa;
Dengan demikian,
dengan refleksi yang terus-menerus dan proporsinal
sesuai dengan perkembangan nya,
si calon bertanggung jawab atas formasionya
sambil berlatih untuk memahami kehendak Allah dan menjawabnya.
 
(93)
Perwujudan kesatuan hidup religius-apostolik
hendaknya menjadi pedoman
bagi seluruh aktivitas formasio dalam komunitas.
Dengan demikian hendaknya diusahakan sedikit demi sedikit
persatuan berbagai aspek tanggung jawab,
dan dalam hidup konkrit.
 
b. Tujuan Formasio dari Hidup Religius Kita
 
(94)
Kepada si calon hendaknya diterangkan
prinsip-prinsip hidup religius dengan semua dimensinya,
demikian pula semangat, tujuan,
dan hidup Kongregasi kita.
 
Selain itu melalui pengalaman-pengalaman praktis,
si calon hendaknya dibantu untuk menemukan
bahwa hidup religius dalam Kongregasi,
seturut teladan Bapa Pendiri,
mencakup karya apostolik,
dengan perhatian khusus terhadap kebutuhan-kebutuhan
masyarakat zaman kini.
 
(95)
Sint Unum - Semoga mereka bersatu
(Yoh 17:11),
yang digarisbawahi oleh Bapa Pendiri,
menuntut supaya si calon,
melalui pendidikan cintakasih yang benar,
menjadi semakin bebas dari egoisme,
yang merupakan penolakan
terhadap cintakasih Allah dan persaudaraan.
 
Luhurnya cintakasih itu
mengundang suatu pertobatan yang tetap
dan harus mendorong si calon
memiliki sikap kesiapsediaan
untuk melayani Tuhan dan sesama,
terutama mereka yang paling miskin dan lemah:
dalam semangat Ecce Venio - Sungguh, Aku datang.
 
3. Formasio dan Inkorporasi Progresif
 
(96)
Pelbagai langkah formasio
yang ditempuh si calon,
bukan hanya tahapan kronologis
yang batas waktunya sudah ditetapkan sebelumnya,
tetapi lebih menunjukkan pada proses perkembangan
ke arah kedewasaan manusiawi dan rohani
dan penyadaran yang semakin mendalam
akan komitmen yang terkandung dalam hidup religius.
 
Melalui langkah-langkah yang berbeda-beda itu
si calon semakin terintegrasi
ke dalam kehidupan Kongregasi,
sehingga Kongregasi dapat menilai
perilaku si calon bagi hidup religius kita.
a. Direktorium -direktorium partikular hendaknya menentukan batas umur minimal dan syarat-syarat lain untuk diterima dalam masing-masing tahap penggabungan dalam hidup religius SCJ, dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan Hukum Gereja. Sedangkan bentuk penggabungan mengikuti petunjuk-petunjuk Gereja dan Direktorium Jendral.
b. Yang menerima calon untuk postulat ialah Superior mayor yang berwenang. Yang menerima postulan untuk masa novisiat, untuk calon profesi pertama, untuk pembaharuan profesi, dan untuk profesi kekal, demikian juga untuk pelantikan Lektor dan Akolit, dan untuk tahbisan Diakonat dan Imamat ialah Superior mayor yang berwenang dengan persetujuan dewannya.
 
(97)
Pada umumnya di masa khusus, masa POSTULAT,
si calon hendaknya mempertegas imannya
melalui katekese yang mendalam.
 
Si calon hendaknya menyesuaikan diri
secara rohani dan psikologis
dengan cara hidup yang baru
yang terkandung dalam hidup religius.
 
Si calon dibantu untuk membebaskan diri
dari kelemahan-kelemahan manusiawi dan psikologis,
yang mungkin menghalanginya
untuk memilih panggilannya
secara bebas dan bertanggung jawab.
 
Keputusan untuk mengeluarkan seorang calon,
yang ternyata tidak cocok, ada pada Superior mayor yang berwenang
Di lain pihak, postulan selalu bebas meninggalkan postulat.
 
(98)
Masa NOVISIAT merupakan periode inisiasi yang istimewa
bagi hidup religius dalam Kongregasi kita.
 
Formasio para novis dipercayakan secara khusus kepada Magister novis,
yakni seorang religius yang sudah mengikrarkan kaul kekal
dan diangkat oleh Superior mayor yang berwenang
dengan persetujuan dewannya,
sesuai dengan syarat-syarat yang ditentukan oleh Direktorium Jendral.
 
Para novis melibatkan diri
dalam pengalaman hidup komuniter dan Injili;
m ereka hendaknya diinisiasi untuk melaksanakan nasihat-nasihat Injil.
a.  Keputusan untuk mendirikan, memindahkan atau menghapuskan rumah novisiat, ada pada Superior Jendral dengan persetujuan dewannya.
b.  Masa N ovisiat, yang dijalankan dalam rumah novisiat, d emi sahnya harus berlangsung sekurang-kurangnya duabelas bulan. Ketidakhadiran selama tiga bulan berturut-turut atau terputus, membuat masa novisiat tidak sah. Ketidakhadiran selama lebih dari 15 hari, maka masa novisiat harus diperpanjang dengan jumlah hari ketidakhadirannya itu.
c. Mengenai pakaian anggota Tarekat, kita hendaknya menyesuaikan dengan Hukum Gereja.
d. Sesudah berkonsultasi dengan dewannya, Superior mayor yang berwenang dapat memperpanjang masa novisiat dengan batas waktu yang tidak lebih dari enam bulan. Batas maksimal masa novisiat adalah dua tahun.
e. Seorang novis selalu bebas dapat meninggalkan Kongregasi; ia dapat juga dikeluarkan oleh Superior mayor yang berwenang dengan suara konsultatif dewannya.
 
(99)
Orientasi apostolik merupakan hal yang esensial
dalam Kongregasi kita.
Para novis hendaknya disadarkan
secara khusus akan hal itu.
Formasio rohani yang sesuai,
dan bentuk-bentuk karya kerasulan tertentu
akan membantu para novis untuk memiliki semangat kerasulan itu.
 
Selama masa novisiat,
di luar dua belas bulan yang ditetapkan demi sahnya,
Direktorium Partikular dapat memberi kemungkinan
untuk satu kali atau beberapa kali
mengadakan pengalaman pastoral di luar komunitas novisiat.
Direktorium Partikular hendaknya menentukan lama dan bentuknya.
 
(100)
Pada akhir masa novisiatnya
seorang novis dapat diterima untuk profesi pertama.
 
Dengan komitmen, yang dibuat untuk satu tahun,
ia diinkorporasikan ke dalam Kongregasi
sebagai seorang anggotanya.
 
Sebagai persiapan untuk profesi pertama itu
diadakan retret selama sekurang-kurangnya lima hari.
 
Selama masa komitmen sementara,
dengan bantuan komunitas dan para formatornya,
ia melanjutkan formasio dalam pelbagai segi nya
dan melanjutkan proses pencariannya
sampai pada komitmen kekal.
 
Untuk profesi pertama dan untuk profesi kekal, dipakai rumusan berikut ini, yang terjemahannya disahkan oleh Superior Jendral dan dimasukkan dalam Direktorium Partikular:
 
Ego, N.N., ad Dei honorem, firma voluntate impulsus intimius Ei in "hostiam suo amori dicatam" me consecrandi Christumque pressius tota vita sequendi, coram fratribus adstantibus, in manibus tuis, N.N., ad annum (vel perpetuam) castitatem, paupertatem, oboedientiam voveo secundum Constitutiones Congregationis Sacerdotum a Sacro Corde Jesu, et huic familiae me toto corde trado, ut Sancti Spiritus gratia, beata Maria Virgine adiuvante, in Dei Ecclesiaeque servitio perfectam persequar caritatem.
 
Untuk pembaharuan profesi dapat dipakai rumusan yang di atas atau rumusan yang berikut ini:
 
Ad peculiarem gloriam Cordis Jesu Christi, Salvatoris mundi, ego, N.N., omnipotenti Deo vota mea castitatis, paupertatis et oboedientiae, secundum Constitutiones Sacerdotum a Sacro Corde Jesu, renovo.
 
(101)
Meskipun sementara,
profesi religius menandai awal hidup bakti,
sambil menciptakan di dalam komunitas suatu ikatan khusus
dengan Allah, dengan Gereja, dan dengan Kongregasi.
 
(102)
Pembaharuan kaul,
lebih dari sekedar penerimaan dari pihak Tarekat saja,
merupakan suatu komitmen dari buah keputusan pribadi,
yang diambil dengan bantuan komunitas.
 
Keterlibatan para Superior untuk mengizinkan kaul-kaul dan tahbisan,
yang dinyatakan dalam penilaian atau nasihat-nasihat,
merupakan bantuan bagi religius yang melanjutkan formasionya.
 
Oleh karena itu religius muda itu
hendaknya merumuskan keputusannya sendiri
dengan penuh tanggung jawab
di hadapan Allah, di hadapan Gereja,
dan di hadapan suara hatinya sendiri.
 
Supaya pengikraran profesi kekal itu sah,
batas umur yang dituntut dari si calon itu adalah 21 tahun penuh;
batas minimal kurun waktu yang perlu untuk profesi sementara adalah tiga tahun,
dan batas maksimalnya enam tahun.
Tetapi Superior mayor yang berwenang, dengan persetujuan dewannya,
dapat memperpanjang waktu sampai maksimal sembilan tahun.
 
(103)
Pengikraran profesi kekal mewujudkan
pembaktian diri definitif kepada Allah.
Seseorang yang akan mengikrarkan profesi kekal
seharusnya sudah mencapai kedewasaan penuh,
yang memungkinkan pilihan
yang sangat fundamental bagi hidupnya.
 
(104)
Setiap religius hendaknya sering
memperbaharui diri dalam doa
dalam kesadaran sebagai yang dibaktikan kepada Allah.
Dalam situasi hidup yang selalu berubah,
setiap religius hendaknya selalu bertanya diri,
bagaimana mewujudkan pembaktian itu dengan setia.
 
Kualitas hidup religius kita dan efektivitas kerasulan kita
sebagian besar bergantung pada usaha kita yang terus-menerus
untuk ber adaptasi dan pembaharuan.
 
Untuk berkembang dalam hidup rohani
dan untuk menjawab masalah-masalah
yang selalu baru pada zaman kita,
kita semua harus tetap hidup
dalam suasana formasio yang terus menerus.
 
(105)
Seandainya terjadi bahwa seorang religius
ingin meninggalkan Kongregasi,
bahkan sesudah komitmen definitif,
maka diikuti peraturan-peraturan Hukum Gereja;
demikian pula kalau seorang tinggal di luar komunitas
atau kalau seorang dikeluarkan oleh Tarekat.
 
Religius yang meninggalkan Tarekat
tidak dapat menuntut balasan apa-apa
untuk karya yang sudah dilakukannya
selama ia sebagai anggota Kongregasi.
 
Terhadap mereka yang meninggalkan Tarekat,
kita hendaknya bersikap adil, persaudaraan, dan pastoral.
 
Hendaknya kita membantu mereka secara moral dan material,
supaya mereka mengarahkan diri kepada situasi hidup yang lain.  

*

Top
Daftar Isi

:: © SCJ Propinsi Indonesia - Terima kasih Anda telah mengunjungi situs ini ::